Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Rai(n)You


Aku melirik jam tangan berwarna merah yang melingkar di tangan kiriku ini untuk yang kesekian kalinya. Jarum jam terus berdetak tanpa suara. Sudah pukul tujuh rupanya. Aku mendongak, mengintip dari balik atap halte, menatap langit gelap pekat yang tanpa bintang. Langit malam ini tak lagi sekedar mendung, tapi juga menangis. Menumpahkan airnya, mengguyur bumi.
Tatapanku kembali menatap kosong pada jalanan basah. Mobil dan motor berlalu lalang menembus derai air mata yang turun dari langit itu. Aliran airnya tak kunjung mereda. Butirannya justru semakin besar dan deras. Ditambah suara klakson robot-robot jalanan yang memekakkan telinga itu membuatku semakin risau. Semilir angin malam pun mulai berani menusuk kulitku, mengajak bulu kudukku bermain.
Hampir satu jam aku berdiri di halte bus yang terletak di depan gedung berlantai tiga puluh sembilan dibilangan kuningan ini. Menunggu bus yang biasanya selalu setia mengantarkanku pulang. Namun, bus yang kunantikan itu tak kunjung tiba. Tampaknya ia sengaja membiarkanku berlama-lama menunggu di sini untuk menikmati hujan malam ini. Hanya berteman sepi dan semilir angin nakal di sebuah halte. Sendiri. Hanya hampa yang semakin terasa.
Aku mulai bersedekap, merapatkan blazer untuk menepis angin yang mulai berani menelanjangiku dalam kebisuan malam ini. Hujan malam ini terasa begitu tragis rasanya. Aneh, tak ada satu orang pun di halte yang biasa ramai ini. Aku kembali menatap nanar pada hiruk pikuk jalanan dalam irama hujan yang kian terdengar kacau.
“Belum pulang, Non?” tanya suara pria yang tiba-tiba mengagetkanku. Aku kenal suara ini.
Aku berbalik dan langsung menatap seorang pria tinggi tegap berparas manis. Tepat dugaanku. Gilang tersenyum manis ke arahku sembari memegang payung di tangan kanannya. Aaah,, senyuman itu...
“Mau naik apa?” tanyanya lagi. Dan aku masih saja membisu.
“Lagi nunggu bus yang biasa,” jawabku pada akhirnya.
“Udah jam segini belum dapet bus? Kayanya busnya kejebak di jalan deh, hujannya deras banget soalnya.”
“Mungkin,” ucapku dengan nada lirih sekaligus pasrah.
“Terus, masih mau nuggu bus?”
“Mungkin naik taksi aja, deh.”
"Belum makan, kan?" tanyanya.
Refleks aku menatapnya. Ya jelas belum. Secara, pulang kantor langsung 'tenggo' dan ternyata malah kejebak hujan di halte sepi begini. Apanya yang mau dimakan? Gerutuku dalam hati.
"Udah nggak usah begitu tampangnya," ujar Gilang yang sepertinya tau gerutuanku tadi. "Makan dulu, yuk," ajaknya.
Gilang mengajakku makan? Ada apa ini?
Tanpa pikir panjang, aku langsung menyetujui ajakannya. Siapa yang akan menolak jika diajak dinner sama gebetan? Eh, dinner?? Ya, whateverlah aku menganggap ajakan ini sebagai apa.
Jadilah, aku dan Gilang berjalan menuju Setiabudi One Building yang hanya berjarak dua gedung dari tempat kami berdiri. Kami berjalan bersama dalam satu payung. Ia merapatkan tubuhnya dan merangkulku. Berusaha melindungiku dari percikan air hujan yang nakal.
Kami berjalan menembus derasnya hujan dalam suasana hening. Kami membisu. Hanya suara air yang tumpah dari langitlah yang terdengar. Aku menikmati setiap detik langkah bersamanya. Di bawah guyuran hujan dan dinginnya kebisuan yang terjadi di antara kami, aku menikmatinya. Berharap waktu berhenti berputar detik ini juga.
Akhirnya kami memilih Dapur Sunda untuk makan malam. Aku merutuk dalam hati, kenapa tempat ini begitu dekat jaraknya dengan tempat kami tadi memulai jalan bersama? Aku rela jika harus berjalan berkilometer di bawah derasnya hujan, jika bersamanya.
"Mau pesan apa?" tanyanya, menyadarkanku dari rutukan dalam hati.
"Iga bakar saus madu sama orange juice."
"Iga bakar saus madunya dua sama orange juicenya dua ya, mbak," jelasnya kepada witters.
Kemudian, membisu lagi. Hening. Aku tahu, Gilang menatapku. Namun aku tak berani membalas tatapannya. Aku hanya menatap keluar jendela dan kembali meresapi hujan di luar sana.
Setelah hening beberapa menit, makanan yang kami pesan pun tiba. Kami makan dalam kebisuan. Tak ada sepatah kata pun yang terucap diantara kami. Hingga pada akhirnya, setelah selesai makan...
“Vit, kamu pernah suka sama aku, ya?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
Deg. Aku membeku. Pertanyaannya seolah bagai busur yang dengan tepat menembakku diam di tempat. Pertanyaan yang tak pernah kusangka akan keluar dari mulutnya.
Mata bening itu tampak begitu mendamaikan. Lembut dan tenang, namun penuh arti. Mata itu, mata yang telah mencuri pandanganku selama ini. Kini ada gempa pribadi yang bergemuruh riuh dalam dadaku.
“Haaahh?!!” Hanya kata itu yang pertama keluar dari mulutku. “Kata siapa? Ge-er banget sih, Mas,” elakku. Tak berani lagi aku menatap matanya, takut jika kebohonganku akan terungkap oleh matanya.
“Bang Boni, yang bilang.”
Mas percaya, sama Bang Boni?”
“Bang Boni kasih bukti ke aku.”
“Bukti apa?”
“Bbm’an kita yang kamu capture dan save di laptop. Catatan tentang aku di dalam note kamu.”
Glek. Aku benar-benar telah kalah telak. Bang Boni memang tidak bisa jaga rahasia. Bagaimana bisa dia buka-buka laptop dan note aku?
“Kamu pernah suka sama aku, kan?” Ia mengulangi pertanyaannya.
“Nyaman,” jawabku singkat.
“Suka?”
“Nyaman!”
“Tapi suka, kan?” Lagi-lagi, ia tetap bertahan pada pertanyaannya. Aku tahu, ini bukanlah candaan, ini obrolan serius.
“Nyaman sama suka itu, beda!”
“Oke, terserah kamu mau anggap itu apa,” ujarnya pasrah. Berusaha menghentikan kebodohan ini. “Aku nggak nyangka kalau ternyata kamu suka sama aku. Berarti perasaanku terbalas, kan?” lanjutnya dengan pasti.
Dan lagi-lagi, pernyataannya membuatku membeku di tempat.
“Aku sadar perbedaan umur kita yang begitu jauh. Aku pikir kamu hanya menganggapku sebagai kakak. Terlebih sikap kamu yang menjauh akhir-akhir ini.”
Tentang sikapku yang menjauhinya, itu sengaja kulakukan. Aku memang menginginkannya, tapi aku sadar, ia terlalu sempurna untukku. Lagipula, ia tidak mungkin suka dengan anak kecil yang baru genap 20 tahun sepertiku ini. Maka kuputuskan untuk menjauh darinya dan berharap rasa ini luntur perlahan. Meski nyatanya, rasa ini justru semakin memburuku. Semakin aku menjauhinya, rasa ini semakin kuat.
Kamu tidak akan pernah tahu betapa tersiksanya aku dengan semua ini, Gilang. Ratapku dalam hati.
“Umurku sudah 27, dan mama menyuruhku untuk segera menikah.”
“Terus, udah ada calonnya?”
Ia mengangguk. “Calon pilihan mama. Kami juga baru mulai menjalani pendekatan beberapa bulan terakhir ini.”
“Bagus dong. Kalau begitu, sikapku menjauh dari kamu itu sudah tepat.” Gelombang gemuruh semakin menyesakkan hatiku ketika mengucapkan semua itu. Bagai tsunami yang siap menelanku ke dasar bumi. Hati ini mulai menangis, jiwa ini mulai meronta.
“Vit, aku tahu kamu masih muda. Aku juga tahu kalau kamu nggak mau nikah muda sebelum kelar kuliah. Kuliah kamu 4 tahun, kan?”
Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan terakhirnya.
“Empat tahun lagi, artinya umurku 31. Nggak terlalu tua, sih. Aku siap nunggu kamu kalau kamu mau.”
Aku terkejut mendengar pernyataannya. Rasaya kini aku meleleh seperti ice yang mulai mencair dan tak berbentuk lagi. Gilang,,, apa yang barusan kamu ucapkan... itu membuatku semakin kacau.
“Maaf, mas. Tapi sekarang udah ada yang ngisi hatiku,” jawabku dengan menunduk lesu.
“Bukannya senja kamu mau pergi?” Pertanyaan yang lagi-lagi membuatku tersentak kaget.
“Ngepoin status bbm ya? Itu nggak berarti apa-apa, kok.”
“Jadi, beneran nggak bisa nih aku masuk di hati kamu?”
Aku menggeleng. Terus menunduk, berusaha menahan air mata yang siap meluncur dari bendungannya.
“Yaudah kalo gitu, semoga bahagia sama senja kamu, ya. Oiya, kamu orang kantor yang pertama tahu soal rencana pernikahanku.”
“Ohya? Terus, kapan acaranya?” tanyaku dengan senyuman yang kupaksakan mengembang.
“Dalam waktu dekat ini.”
“Selamat ya,” ucapku, “Jadi, kalau nggak kebetulan ketemu begini, kamu nggak akan bilang ini semua, dong?”
“Aku tetap harus bilang ke kamu secepatnya. Karena kamu yang harus tahu ini semua. Dan terlebih lagi buat memperjelas perasaan aku dan kamu. Jujur, selama jalan sama calonnya mama, aku belum ngerasain ada chemistry, beda kalo jalan sama kamu.”
Aku mengangguk. Tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Nanar.
Kami merasa bahwa obrolan ini sudah cukup. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Lagipula, hatiku juga harus segera kuperban. Kami memutuskan untuk pulang. Hujan kini telah berganti dengan gerimis.
“Aku antar, ya?”
“Nggak usah. Jelas-jelas kita beda arah.”
“Biar aku naik kereta dari Tebet.”
“Udah aku bilang, kereta ke Bogor dari Tebet itu penuh banget. Aku naik taksi aja.”
Akhirnya taksi berwarna biru itu datang juga setelah beberapa menit aku dan Gilang menunggu. Aku membuka pintu dan siap masuk ke dalamnya.
“Vit,” ucap Gilang menghentikanku masuk. Aku berbalik, menengok ke arahnya.
“Ya?”
“Kamu harus datang, ya! Ajak senja kamu.”
“Insya Allah.” Aku tersenyum simpul dan langsung masuk ke dalam taksi.
Ucapan terakhir gilang benar-benar melengkapi seluruh gemuruh yang tengah terjadi dalam hatiku. Entah, tak dapat lagi kudengar kebisingan jakarta malam ini. Semua terlihat gelap di tengah gemerlapnya lampu jakarta malam ini. Mungkin, inilah yang dinamakan hampa.
Aku menatap nanar melalui kaca jendela. Memperhatikan rintik air yang masih setia menemani malamku. Dingin. Lengkap sudah dinginnya menelanjangi kulitku dan membekukan hatiku.
Terima kasih hujan, kau telah mempertemukanku dengannya dan memberikanku waktu bersamanya malam ini. Meski rasanya tak lebih baik, namun malam ini aku mendengar kabar baik tentangnya. Tentang kebahagiaannya. Semoga ini adalah keputusan yang terbaik untukku ataupun untuknya.
Luka ini akan segera pulih, Tuhan... Kuburlah rasaku dan rasa miliknya dalam keabadian kisah yang pernah kau buat, Tuhan...



by @fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena