Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 18 Desember 2012

20 Tangkai Mawar Putih


Seperti biasa, di sabtu sore aku kembali ke taman ini. Ada sebuah tempat yang menjadi zona amanku untuk menghabiskan senja. Aku bergegas seakan takut tertinggal oleh waktu. Meski aku tahu tak ada seorang pun yang berminat untuk menempati zona amanku ini.
HAP!!
Akhirnya aku mendaratkan tubuh dan duduk dengan syahdu di zona amanku ini. Di bawah pohon besar beralaskan rumput hijau yang bersahabat. Terletak disalah satu sudut taman kota. Kemudian aku meletakkan perkakas yang kubawa di atas rumput ini.
Bersandar pada batang pohon tua ini kumenatap langit sore. Tampaknya senja sore ini sedang ceria. Langit biru berhiaskan awan putih nan cantik yang disempurnakan oleh guratan jingga. Aku mengagumi senja dengan segala kesederhanaan jingga yang mampu bercerita tanpa kata.
Aku menghirup nikmatnya angin sore yang membelai lembut dan memberi kedamaian pada jiwa. Entah jiwa mana yang butuh kedamaian. Kupandangi sekelompok merpati putih yang tengah asyik bermain bersama para malaikat cilik di tengah taman.
Ah sudahlah, tak pernah habis memang untuk mengagumi ciptaan dan kebesaran Mu Tuhan.
Tatapanku kembali tertuju pada benda tipis berbentuk persegi yang tergeletak di atas rumput. Aku meraih benda itu, yang kini telah berpindah tempat di pangkuanku. Mulai kubuka layarnya dan bersiap untuk memulai. Aku membuka file naskah yang sudah menanti untuk diselesaikan.
Jemari ini menari indah merangkai kata demi kata. Namun, setangkai mawar putih yang tiba-tiba tersodor di depan wajahku kini menghentikan jari-jemariku ini. Aku terpaku pada wajah mungil yang menyodorkan setangkai mawar itu.
“Ini untuk kakak!” mulut mungil itu kini memberi kepastian dengan tetap menyodorkan mawar itu.
“Ini untuk apa?” tanyaku lembut dengan tampang masih setengah bingung.
Bocah kecil dengan rambut kuncir duanya itu menggeleng dan masih berharap aku menerima mawar itu.
Akhirnya aku pun mengambil mawar itu dari tangan halusnya. Aku memandangi mawar putih yang cantik ini dengan bingung.
“Kalau kakak mau cari tahu, ikuti saja petunjuk itu!” ucap si bocah mungil itu sambil menunjuk kearah belakangku.
Refleks aku menoleh kebelakang mengikuti arah yang ditunjuk oleh anak itu. Dan sketika aliran darahku berhenti. Hanya bisa tertegun memandangi semua ini. Sebuah jalur yang terbentuk oleh tiap tangkai mawar putih yang tersebar.
Aku menoleh kembali ke tempat bocah itu berdiri di depanku tadi. Tetpai bocah itu kini telah menghilang. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling taman, namun tak kutemui sosok mungil itu.
Bergegas kurapikan barang-barang yang berserakan di atas rumput. Aku mulai mengikuti petunjuk itu. Memunguti tiap tangkai mawar putih yang baru saja kulewati. Sambil menghitung tiap tangkai mawar itu. Satu, dua, tiga, hingga berakhir pada tangkai ke sembilan belas.
Kini darahku benar-benar berhenti mengalir bahkan membeku. Aku membeku dalam diam. Di depanku terdapat sebuah bangku taman panjang yang berwarna cokelat. Dan disana tergeletak sebuah tart kecil lengkap dengan lilin yang menyala. Kemudian disebelahnya ada kotak berwarna merah muda.
Entah berapa lama sudah aku membeku ditempat ini. Perlahan aku mendekati bangku itu. Duduk dan memindahkan kotak itu ke pangkuanku. Aku mulai membukanya dan bersiap untuk kejutan selanjutnya.
Kotak itu berisi lembaran-lembaran bergambar seorang perempuan. Perempuan yang sedang menatap langit menikmati senja di bawah pohon besar dan beralaskan rumput hijau.
‘Ini aku?? Ya ini akuu!!’ Batinku berseru.
Lembaran itu adalah foto-foto diriku. Dan aku yakin foto ini diambil dengan jangka waktu yang cukup lama. Karena tertera tanggal pengambilan foto itu. Kemudian pandanganku tertuju pada amplop merah muda yang ada di dalam kotak. Aku membukanya perlahan. Dan ada sebuah surat di dalamnya.

“For my Angel, Cinta Angraini
Segala keindahan terlukis di wajahmu, terpaan sinar jingga mampu menyempurnakannya. Aku tersadar bahwa kaulah bidadari itu.
Mengagumimu dalam diam, hanya itu yang bisa kulakukan. Mungkin aku memang terlalu pengecut. Hanya mampu menjadi pengagum rahasiamu dan tak berani muncul dalam nyata.
Aku bukanlah pujangga yang pandai merangkai kata-kata indah untuk cinta. Aku hanya memiliki rasa dan cinta yang tulus untukmu.
Selamat Ulang Tahun yang ke-20 Cinta Angraini... Cintaku tak sekedar mawar putih, tart, dan lembaran foto ini. Tapi segenap hati ini adalah milikmu Cinta... Seluruh hati ini telah kaujajah.
Jangan pernah mempertanyakan alasanku mencintaimu, karena akupun tak tahu alasannya. Cinta itu tanpa alasan bukan? Aku takut cinta ini akan ikut hilang jika alasan itu hilang.
Pengagum Rahasia-mu”


Aku meraih tart kecil itu. Memejamkan mata dan melakukan ritual ‘make a wish’ kemudian aku meniup lilin yang tengah menari-nari di atas tart ini yang sebentar akan padam.
Tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipiku. Aku menghitung mawar yang ada dalam genggamanku. Dua puluh! Yaa,, jumlahnya dua puluh sesuai dengan umurku saat ini.
Aku, Cinta Anggraini kini tepat berumur 20 tahun. Bermaksud menikmati sore di taman hanya sendiri untuk melupakan ulangtahun-ku yang selalu sepi. Dan kini seorang pengagum rahasia hadir dan memberi kejutan kepadaku. Haruskah aku bahagia ataukah justru kecewa?
 Terkadang cinta dari seseorang yang masih dalam semu justru terasa begitu nyata dan memberikan ketulusan yang lebih besar. Namun cinta dengan kepastian dalam dunia nyata akan lebih terasa berarti kurasa....
Akankah kau menjadi nyata dalam hidupku? Bersama ketulusan cinta kita merangkai kisah bersama.


~end~
@fetihabsari

4 komentar:

Rizky Adinugroho mengatakan...

haha berapa tangkai? ratusan

fetti mengatakan...

mau dong yang ratusan

Endik Koeswoyo mengatakan...

Seperti biasa, di sabtu sore aku kembali ke taman ini. Ada sebuah tempat yang menjadi zona aman ku untuk menghabiskan senja. Aku bergegas seakan takut tertinggal oleh waktu. Meski aku tahu tak ada seorang pun yang berminat untuk menempati zona aman ku ini. --> Seperti biasa, di Sabtu sore aku kembali ke tempat favoriteku, ya, taman ini adalah tempat paling aman untuk ngumpet, melamun, ngayal, mikirin cowok-cowok boy band yang kegantengannya diatas rata-rata, atau untuk sekedar mikirin gosip artis di televisi. Pokonya taman ini adem banget menurutku, bisa ngapain aja disini. Apalagi ketika senja datang, duh... taman ini seperti Surga dalam dongeng. Disini aku bisa jadi DORA, maksudnya apa? Hehehe... disini aku bisa tanya apa aja. Pada siapa? Ya pada bunga, pada rumput, pada pohon dan pada diriku sendiri tentunya. Kadang aku heran, taman ini nyaman banget buat aku, tapi kok sepi ya? Apa nggak ada gitu yang suka tempat seindah ini? Ah... lupakan, lupakan... ada hal lain yang lebih penting ketimbang mikirin soal taman ini....---->

fetti mengatakan...

:O kereeen!! nggak kepikiran selama ini mas,, makasiih banget mas udah ngerelain waktunya buat mampir dan kasih masukan *terharu banget*

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena