Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Rabu, 09 Agustus 2017

Keeksotisan yang Tersembunyi dari Puncak Telomoyo




Indonesia memang surganya bagi traveler, memiki pesona yang tidak pernah ada habisnya. Terlebih puluhan gunung yang berjajar jelas sangat siap memanjakan dengan panorama eksotisnya. Menyaksikan panorama keindahan alam dari ketinggian memang memiliki sensasi kepuasan tersendiri. Salah satunya bisa  didapatkan di Gunung Telomoyo, Magelang, Jawa Tengah.

Gunung yang memiliki ketinggian 1.894 mdpl ini terletak di wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang. Gunung ini diapit oleh Gunung Merbabu, Sumbing, dan Ungaran. Merupakan gunung api berbentuk strato (kerucut) ini belum tercatat pernah menyemburkan awan panas.

Meski gunung ini terbilang tidak terlalu tinggi dibanding gunung lainnya, namun pemandangan di sekitar gunung ini sangatlah indah. Gunung Telomoyo menawarkan panorama jajaran gunung gagah seperti Gunung Lawu, Sindoro, Sumbing dan Prau. Dari atas sini, kita juga akan disajikan hamparan luas Danau Rawa Pening.

“Besok ke Telomoyo motoran ya, mobil udah nggak bisa lewat.” Begitu kalau kata si Bear. 🐻

Jika untuk tiba di puncak sebuah gunung biasanya kita harus berjalan kaki mendaki dan berlelah-lelah ria, lain halnya jika kita menuju puncak gunung yang satu ini. Kita bisa mencapainya menggunakan kendaraan bermotor hingga puncaknya tanpa perlu ngos-ngosan. Di gunung ini sudah dibuat jalan beraspal sampai ke puncak. Pembuatan jalan ini dikarenakan terdapatnya stasiun pemancar milik telkom dan landasan paralayang. Jadi jangan heran jika kamu menemukan bangunan stasiun pemancar dan warung di atas sana.

Meski jalannya sudah beraspal, tetap dibutuhkan kendaraan dengan kondisi baik. Sebab jalurnya yang menanjak dan cukup sempit hanya muat dilewati satu mobil dan juga banyak lubang. Sebaiknya memang menggunakan sepeda motor dibanding mobil. Terlebih saat ini sepertinya memang benar-benar sudah tidak bisa dilalui mobil karena longsor. Tampaknya, semakin lama jalan yang tersedia pun semakin rusak. Lubang dan batuan akan memperlambat laju kendaraan, belum lagi longsor yang terjadi di beberapa titik membutuhkan kehati-hatian ekstra saat melaluinya.

Akibat kondisi jalan yang sebenarnya bisa dikatakan tidak layak untuk dilalui kendaraan tersebut lebih membuat kita bersabar mendapatkan hentakan-hentakan di atas kendaraan. Memang sih menuju puncak Telomoyo tidak perlu berkeringat-keringat ria akibat treking mendaki, tetapi tetap dibutuhkan kesabaran. Jalannya yang rusak, naik turun dan berliku serta memutar rasanya membuat perjalanan semakin lama dan melelahkan. Jika menggunakan kendaraan, waktu yang dibutuhkan sekitar 40 menit, tetapi jika berjalan kaki dibutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan atau lebih untuk mendaki hingga puncak. Jalur untuk menuju Puncak Gunung Telomoyo ini juga cukup menantang bagi kamu yang gemar bersepeda atau pun berlari.

Di tengah perjalanan, kita akan menemukan air terjun mini saat menapaki jalan menuju puncak. Saat musim hujan, air terjun ini akan tampak cantik dan memikat, sebaliknya saat di musim kemarau debit airnya kecil dan hanya akan terlihat seperti tebing batuan biasa. Kita bisa singgah sejenak untuk menikmati kesegaran air terjun mini ini atau sekadar berfoto. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan Kota Salatiga, Magelang, dan Semarang yang mengagumkan, dengan syarat tidak berselimut kabut. Puncak Telomoyo ditandai dengan adanya stasiun Telkom dan landasan paralayang.


Waktu yang tepat mengunjungi puncak Gunung Telomoyo adalah saat sunrise dan juga menjelang sunset, sebab keduanya akan menambah keeksotisan panorama yang disajikan dari puncak Gunung Telomoyo ini. Sebenarnya bisa menyaksikan Puncak Gunung Merbabu dan Merapi yang mulai bersemburat kemerahan disinari matahari dari sisi timur. Kedua fenomena indah tersebut bisa kita dapatkan jika puncak tidak berselimut kabut.

Saat saya sudah mencapai setengah perjalanan mendaki yang melelahkan meski menggunakan motor itu, langit cerah, hamparan panorama cantik cukup menyenangkan hati dan sedikit mengusir lelah. Sialnya, saat tiba di puncak, langit mendadak berselimut kabut kembali. Tidak ada apa-apa yang bisa dilihat. Semuanya putih. Kabut. Lelah dan cuaca tidak mendukung ekspektasi yang sudah terlalu berlebihan.

Tidak ada spot atau pun background yang cantik untuk diabadikan. Landasan paralayangnya pun sudah terlihat rapuh dan tidak kuat lagi. Tidak ada safety bagi pengunjung dan juga penjaga dari pihak pengelola. Sangat berbahaya sebenarnya bagi para pengunjung. Saya memutuskan untuk turun. Di Puncak Telomoyo saya belum mendapatkan apa yang saya tuju, tetapi rasanya enggan untuk kembali lagi dengan kondisi jalan yang menurut saya lebih melelahkan dibading harus mendaki gunung dengan berjalan kaki. Belum lagi landasan paralayang yang rasanya kurang aman lagi untuk dijejaki. Untuk perempuan yang sedang mengalami nyeri haid disarankan tidak melalui jalan ini deh. Sudah kebayang bagaimana nyerinya bisa menjadi berkali-jali lipat. Belum lagi saat tiba di puncak tetapi kondisi alam tidak mendukung, badmoodnya juga bisa berkali-kali lipat.

Tetapi jika kondisi alam benar-benar mendukung, tampaknya segala lelah benar-benar akan terbayarkan. Terlebih saat bisa mendapatkan dua fenomena alam yang cantik sunset/sunrise di tempat ini. Kita bisa menemukan keeksotisan yang tersembunyi dari Puncak Gunung Telomoyo. Seperti foto-foto kece yang hits di Instagram jika kamu mencarinya di kolom pencarian “Gunung Telomoyo”. 

Mau merasakan eksotisme keindahan alam sekaligus berpose dengan sensasi adrenalin dari landasan tertinggi di Indonesia? Puncak Telomoyo ini tempatnya. Namun jika melihat kondisinya yang seperti itu, saya kurang yakin Telomoyo bisa terjaga keeksisannya. Sepertinya jika ada perbaikan akses dan pengelolaan yang lebih baik, tempat ini sangat layak dan cukup indah dijadikan destinasi unggulan Kota Magelang.

Kunjungan pertama ke Telomoyo ini saya tidak mendapatkan hasil foto yang diharapkan. Bahkan tidak ada foto selain foto selfie. Mau foto kondisi jalannya pun sudah tidak mood karena lelah. Sedih.


bear yang capek bawa motor,
saya yang badmood kelelahan
biasyaaa. namanya juga feti.

Di belakang itu pemancar milik telkom


0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena