Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 21 Agustus 2017

Bukan Hanya Bukit Teletubies, Jogja Juga Punya Desa Teletubies.




Saat mendengar kata ‘Teletubies’ yang terfikir adalah film anak yang terdiri dari Tingki wingky, Dipsy, Lala, dan Poo. Mereka tinggal di sebuah rumah berbentuk setengah lingkaran (dome) yang berada di bukit nan hijau. Lantas, pernah nggak sih terbersit keinginaan untuk merasakan tinggal di dalam rumah tersebut?

Yogyakarta bisa loh mewujudkannya. Ternyata tak hanya Bukit Teletubies, tapi Yogya juga punya Desa Teletubies. Terletak di Dusun Nglepen, Desa Sumberhaarjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, kompleks perkampungan rumah dome ini berdiri. Berbentuk dome (setengah lingkaran) yang sangat mirip dengan rumah teletubies menyebabkan tempat ini disebut sebagai Desa Teletubies. Karena meeningkatnya rasa penasaran dan kunjungan dari beragam kalangan, maka ditetapkanlah tempat ini sebagai Desa Wisata.


Mulanya rumah-rumah berbentuk dome ini dibangun pasca gempa besar yang melanda Kota Yogyakarta di tahun 2006. Rumah-rumah di Desa Nglepen hancur tak tersisa, maka dirancanglah bangunan yang tahan gempa dan tahan api. Meski bangunan ini tampak kecil, namun isinya memiliki beberapa ruangan dan terdiri dari dua lantai. Saat panas terik udara di dalam rumah akan terasa dingin, begitu pun sebaliknya.

Layaknya desa pada umumnya, di kawasan ini juga memiliki beragam fasilitas mulai dari mushola, klinik, dan lainnya yang juga berbentuk dome. Biasanya pada saat musim liburan, akan ada badut-badut dengan kostum teletubies melengkapi suasana seru di Desa Wisata ini. Berpose di rumah teletubies bersama tokohnya sekaligus? Pasti lucu.

Desa Wisata yang letaknya tidak jauh dari Istana Ratu Boko ini semakin hari semakin ramai pengunjung. Mulanya rumah-rumah ini keseluruhannya berwarna putih, namun saat saya mengunjunginya pada bulan Juli lalu, rumah-rumah ini sudah menjadi aneka warna. Ada sponsor cat yang membuat rumah-rumah di tempat ini menjadi berwarna sejak tiga bulan yang lalu, kata pihak pengelola. Selain rumah-rumahnya yang bisa dijadikan spot foto, di sini juga sudah dibuat beragam spot foto lainnya.


Berada di atas tanah selua 2 hektar, perkampungan ini sukses menjadi desa wisata karena bentuk bangunannya yang unik dan seragam. Bangunan yang difungsikan sebagai tempat tinggal ini pun bisa kita tengok ke dalam. Warga setempat dengan ramah mempersilakan pengunjung menengok isi rumah saat kita menanyakan dan meminta ijin langsung. Saya yang penasaran dengan isi bangunan tersebut dipersilakan untuk menengok isinya oleh salah satu warga yang membuka warung di depan rumahnya.

Bagian dalam dome

Memang, bicara perihal wisata dari kota gudeg ini jelas tidak ada habisnya. Mulai dari wisata alam hingga buatan. Tetapi hal ini tidak memudarkan kearifan lokal dan keramahan para masyarakat setempatnya.



0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena