Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 09 April 2017

Jelajah Malam Pekuburan Masa Lampau Bersama Komunitas Historia Indonesia



Jelajah malam sejarah di museum taman prasasti dalam rangka syukuran hari jadi ke 14 tahun Komunitas Historia Indonesia. 

Pernah merasakan menjelajahi museum di malam hari? Terlebih menjelajahi pekuburan penuh sejarah di saat langit sudah gelap? Nah, Komunitas Historia Indonesia menawarkan pengalaman yang pastinya seru banget loh di tanggal 25 April kemarin.

Komunitas Historia Indonesia (KHI) atau biasa disingkat KHI, merupakan organisasi nirlaba-independen yang bergerak dalam bidang sejarah, kebudayaan, pendidikan dan pariwisata. KHI memiliki tiga pilar utama dalam setiap gerakannya, yaitu rekreatif, edukatif dan menghibur.

KHI merupakan suatu wadah bagi kaum muda peduli sejarah dan budaya Indonesia yang didirikan di Jakarta pada 22 Maret 2003 oleh Asep Kambali, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pada awal berdirinya, KHI diberi nama KPSBI-Historia, yaitu kependekan dari Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indoesia - Historia. Namun, pada tahun 2005/2006, KPSBI-Historia dirubah namanya menjadi Komunitas Historia Indonesia atau disingkat KHI. KPSBI-Historia inilah yang menjadi cikal bakal dari gerakan KHI sampai sekarang. (www.komunitashistoria.com)

Dengan visi dan misinya yang ingin Membangun Nasionalisme & Patriotisme Indonesia, KHI telah mampu menumbuhkan kesadaran sejarah dan budaya bangsa dengan menyelenggarakan program-program yang rekreatif, edukatif dan menghibur. 

Untuk kamu yang penasaran sama komunitas sejarah yang kece ini, bisa loh dikepoin akun twitter dan instagramnya di @IndoHistoria atau jelajahi websitenya.

Seperti anda sekarang, demikianlah aku sebelumnya. Seperti aku sekarang, demikianlah anda kelak.

Salah satu kutipan yang terdapat di Museum Taman Prasasti ini memiliki sebuah makna yang dalam. Betapa kehidupan dan kematian silih berganti. Akan ada masanya kita seperti mereka kelak. Sebab kehidupan dan kematian hanyalah persoal waktu yang tak berjarak.

Kegiatan Night at the Museum ini sebelumnya juga sudah pernah diselenggrakan, tetapi saya tidak ikut. Dibuka kuota untuk 200 peserta dengan biaya pendaftaran Rp 125.000 dan dalam satu hari sudah bisa dipastikan semua kuota sold out. Terbukti kan bahwa masih begitu banyak yang berminat dan peduli pada sejarah. Kamu, bagaimana?

Dalam Night at the Museum kali ini, kita diajak berkeliling makam di Taman Prasasti. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yang masing-masing kelompoknya dipimpin oleh satu orang tour guide yang berasal dari panitia KHI. Ada kisah, cerita dan sejarah masa lalu yang dijelaskan sepanjang malam itu. Suasana pekuburan tak lagi menegangkan selama niat baik tetap tertanam di hati.


Malam itu peserta dibawa kembali pada masa lalu. Mengunjungi lagi kenangan masa lampau. Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta, pemakanam Kapten Jas, H.F Roll, Olivia Mariamne Raffles, John Casph Leyden, Andries Victor Michiels, Dr. W. F. Stuttherheim, Soe Hok Gie, Miss Tjitjih, Dr. J. L. Andries Brandes, Jonathan Michiels, Pieter Erberveld, J. H. R. Kohler, Monsignor Adami Caroli Claessens, dan Monsignor Walterus Javobus Stall, serta pastinya banyak lagi yang tidak akan habis untuk diceritakan.

Saat melewati sebuah sudut, memang saya dan Kak Meri sempat mencium suatu aroma wangi bunga dan kemenyan, padahal tidak ada apa pun yang bisa menimbulkan bau-bauan itu. Ya, mungkin hanya perasaan saja, atau memang secara kebetulan ada yang hadir. Yang jelas, kegiatan menjelajahi masa lalu perihal pemakaman yang ada di Taman Prasasti berlangsung dengan asik tanpa ada gangguan sama sekali.




Seusai berkeliling dan coffe break, acara dilanjutkan dengan foto bersama dan kuis serta pembagian doorprize. Karena suatu hal bisnis yang sayang untuk dilewatkan, kami pun tidak mengikuti acara hingga selesai. Kami pulang. Baru beberapa menit mobil meninggalkan kawasan museum, Om Agung whatsapp, kalau saya dan Kak Meri menang kuis di twitter. Berhubung hadiah tidak bisa diwakilkan, jadi diserahkan pada peserta lain. Belum rejeki.

Serunya lagi, tidak hanya orang dewasa atau remaja yang ikut memeriahkan acara malam itu. Ada peserta termuda dan tertua yang tidak hanya berasal dari Indonesia. Peserta termuda adalah seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang datang bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya. Lagi-lagi, saya bisa menyaksikan kebahagiaan sebuah keluarga yang menghabiskan waktu dengan kegemaran yang sama. Dan peserta tertua adalah seorang berkewarganegaraan Prancis yang usianya sudah sekitar 70 tahun. Keren, kan?

Ini adalah kegiatan langsung KHI yang pertama kali saya ikuti. Saya sudah lama tahu ada komunitas Historia Indonesia, itu pun berkat kakak-kakak sepergaulan. Mulanya mendengar nama KHI dari Kak Meri yang memang suka dengan sejarah, wisata sejarah, sampai (berharap dapat jodoh) guru sejarah. Lantas masuk ke dalam lingkaran pergaulan kakak-kakak yang eksis ini, kenallah dengan Om Agung. Kebiasaan saya memang memanggil para kakak-kakak lelaki itu dengan sebutan om, meski usia tidak terpaut jauh. Asik aja sih. 

Om Agung merupakan salah satu volunteer yang sudah lama sekali aktif di KHI, mungkin bisa dibilang sesepuh. Darinyalah kita (saya) selalu dapat info perihal event yang diadakan oleh KHI. Mulai dari menjadi penonton gelap Drama Musikal Khatulistiwa sampai seru-seruan di booth KHI di berbagai event. Pokoknya kami (saya) siap jadi tim hore. Seruuu!!! Banyak keuntungan yang bisa didapat.

Sejarah ada tidak hanya untuk dikenang, sejarah ada untuk membuka kembali pemikiran. Sejarah adalah guru bagi kehidupan saat ini dan nanti.




@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena