Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 21 November 2016

Realistis atau Idealis ?



Saya adalah perempuan dengan basic pendidikan yang lekat dengan rumus-rumus dan sesuatu yang berbau kimia. Mendapatkan pekerjaan menjadi seorang Analis Kimia di sebuah laboratorium memang sudah menjadi hal wajar dan seharusnya bagi saya. Bersyukurnya, saya mendapatkan semua itu. Pekerjaan yang memang pada bidangnya. Tidak menyimpang seperti banyak kasus yang terjadi belakangan ini. Pekerjaan yang tidak sesuai dengan dasar pendidikannya.

Saya berkutat di bidang kimia, bukan berarti tidak memiliki ketertarikan apa pun di bidang lain. Hal ini yang terkadang banyak orang, bahkan diri saya sendiri merasa, apakah saya salah jurusan? Tidak. Sebab saya mencintai dunia saya saat ini. Kimia. Namun di satu sisi ada jiwa lain yang muncul. Mencintai sebuah dunia yang bersebrangan dari kata sebuah hukum pasti.

Yang membuat pertanyaan ‘salah jurusan’ adalah ketika yang dilihat banyak orang saya lebih sering terhanyut dan tenggelam dalam kegemaran beragam seni. Mulai dari menggeluti komunitas buku, puisi, sastra, hingga menyukai drama teater. Bahkan juga menulis. Dibanding tenggelam dalam dunia seoarang Analis Kimia layaknya teman-teman lainnya. Seperti, berburu sertifikat pelatihan, mengikuti beragam seminar menenai K3, lingkungan, makanan, obat-obatan, bergabung di komunitas lab mania, dan sebagainya.

Mencintai dunia seni. Satu sisi yang hadir dan bisa berjalan beriringan meski saling berseberangan. Berawal dari kegiatan menari sejak kecil, itulah satu-satunya yang digeluti saat itu. Namun ternyata bukan itu. Berawal dari kegemaran membaca sejak kecillah akhirnya saya bisa menemukan dan masuk ke dunia yang tidak pernah ada di dalam benak saya untuk bisa masuk dan terlibat di dalamnya.

Membaca merupakan sebuah kebutuhan. Kewajiban. Kegiatan membaca itu sempat terhenti empat tahun lamanya. Semenjak berkutat dengan rumus dan sistem pendidikan yang sama sekali tidak memberikan kesempatan saya untuk membaca buku-buku lain selain buku penuntun praktik dan segala teori beserta rumusnya.

Setelah empat tahun seolah berada dalam sebuah kurungan, saya mulai bebas. Kembali membaca dan mengoleksi bacaan. Hingga di akhir tahun 2012 menemukan sebuah komunitas bernama Klub Buku. Berawal dari situ saya semakin mencintai dunia baca membaca. Bertemu orang-orang hebat dan luar biasa di bidangnya.

Tidak berhenti sampai di situ, kaki saya semakin melangkah maju merambah ke dunia tulis menulis. Dimulai dari sekadar kultwit dan penggalan-penggalan #puisisenja serta #puisimalam pada jamannya dulu, membawa saya semakin dekat dan mengenal banyak orang-orang bertalenta tinggi di bidang literasi. Dari sebuah iseng-iseng, di awal 2013 saya pun berhasil lolos pergi ke Jogja untuk mengikuti sebuah kegiatan pelatihan menulis novel dari sebuah penerbit di Jogja, Divapress. Kampus Fiksi namanya. Sebuah program keren yang menetaskan banyak penulis-penulis muda.

Pada akhirnya, tanpa sengaja saya terjerumus masuk ke dalam berbagai komunitas literasi hingga membawa saya berkenalan dengan dunia sastra. Memiliki sahabat dari sebuah komunitas literasi membuat saya turut tertular mengenai berbagai genre bacaan. Sampai pada titik saya mulai mencintai bacaan sastra yang banyak orang mengatakan bacaan berat. Bagi saya, sastra sungguh menyenangkan dan membuat candu untuk membacanya lagi dan lagi.

Bermula dari mencari-cari buku sastra yang tidak lengkap di rak toko buku, berkenalanlah saya dengan sebuah kedai buku sastra Jual Buku Sastra. Memiliki keluarga baru dan berkenalan dengan orang-orang hebat lainnya yang lebih mengenal sastra. Ini pulalah awal pertemuan dengan seseorang yang perlahan masuk dan menjadi bagian hidup.

Seorang penyair, sastrawan, seniman, aktivis dan entah apalagi bisa disebut. Mengnalnya mengajarkan saya banyak hal. Bukan hanya tentang perasaan yang semakin lama semakin dalam. Mengenalnya membuat saya mengenal dan tenggelam lebih dalam ke dunia yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan untuk dijangkau oleh saya yang hanya mengerti rumus dan kimia ini.

Tenggelam dalam dunia tulis menulis belum membuat saya berhasil menelurkan karya tunggal. Hanya beberapa antologi cerpen dan puisi bersama hasil lomba. Sisanya, hanya menjadi curhatan di dalam blog. 

Bekerja dan memiliki uang sendiri membuat saya berhasil terbang bebas dan mengeksplore apa yang diri saya inginkan. Membeli dan mengoleksi banyak buku hingga travelling. Saya suka travelling. Saya suka membaca. Saya suka menulis. Saya banyak menuliskan berbagai hal di blog. Termasuk tentang perjalanan saya.

Dari blog, saya sempat menerima beberapa tawaran menulis dengan berbagai fee yang berbeda. Hingga akhirnya sebuah situs referensi wisata kesiniaja.com menawarkan sebuah kerjasama dengan komitmen, bukan lagi tawaran-tawaran menulis di blog yang sepintas lalu. Sebuah pekerjaan freelance.

Saya yang tidak memiliki pendidikan di bidang literasi pun tidak terlalu mempermasalahkan fee yang selama ini saya dapat. Saya masih menganggap semua ini hanyalah bonus dari apa yang saya sukai. Sebab saya memang tidak mematokkan sebuah penghasilan dari menulis. Saya hanya melakukan apa yang saya sukai. Mengenai hasil, hanyalah buah dari proses dan bonus.

Kewajiban saya masih tetap. Menjalankan pekerjaan di laboratorium kimia yang memberikan saya kehidupan yang lebih realistis. Sementara di dalam sebuah tulisan, saya memuaskan diri atas apa yang saya sukai dan cintai. Menuangkan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Jika saya tidak berfikir realistis lagi, bisa saja saya keluar dari pekerjaan tetap sebagai Analis Kimia dan menjalani kegiatan freelance yang menawarkan saya pengalaman dan tantangan baru perihal hal-hal yang lebih saya sukai.

Saya memang bukan orang pandai yang mampu menjelaskan apa itu realistis atau apa itu idealis. Tapi saya hanya menjalankan sebuah siklus kehidupan dan bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Realistisnya di sini, saya menjalankan tanggung jawab saya sebagai seorang Analis Kimia di laboratorium yang memberikan penghasilan tetap dengan tetap baik. Idealisnya, saya masih tetap menjalani kecintaan saya di bidang seni, baca, literasi, dan lainnya tanpa harus terpengaruh oleh orang lain. Yang kebanyakan tetap memegang pendirian bahwa apa yang saya sukai tidak harus apa yang disukai banyak orang.

Saya terlalu banyak mengenal orang-orang yang lebih mementingkan idealismenya dari pada realistis. Pun sebaliknya. Dan saya, mencoba berkaca dari itu semua. Saya ingin tetap berjalan di tengah-tengah. Memegang teguh kata realistis, dan menjaga jalan idealis. Jangan sampai apa yang disebut realistis membunuh pendirian. Dan jangan sampai apa yang disebut idealis membunuh akal untuk hidup secara realistis. Bahkan mengorbankan hal-hal berharga dalam hidup.

Bukankah dalam hidup segalanya harus seimbang? Termasuk antara yang realistis dan juga yang idealis.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena