Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 27 Agustus 2015

[Novel; Review] Hujan Bulan Juni



Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Buku ini adalah cetakan pertama, Juni 2015.
Dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film, kini puisi "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi Djoko Damono beralih wahana menjadi novel.
Bagi penggemar puisi, siapa yang tidak kenal Hujan Bulan Juni yang tabah milik Sapardi Djoko Damono? Bagi pecinta puisi, siapa yang tak mencintai sajak-sajak manis milik Sapardi Djoko Damono?
Sapardi Djoko Damono, yang telah berhasil meraih berbagai hadiah dan penghargaan dalam dunia kesusastraan. Kini berprofesi sebagai guru besar pensiun UI dan guru besar tetap pada Pascasarjanan IKJ. Dan membimbing serta mengajar juga di UNDIP, UNPAD, dan ISI Solo.
Saya adalah salah satu orang yang jatuh cinta pada puisi, dan semua berawal dari karya-karya Sapardi. Sepilihan Puisi; Hujan Bulan Juni adalah kumpulan puisi yang sangat saya cintai. Buku ini berisi kumpulan syair-syair Sapardi dan salah satunya adalah yang berjudul Hujan Bulan Juni. Hujan yang paling tabah, kata Sapardi. Selain buku tersebut adalah buku karya Sapardi, buku kumpulan puisi tersebut juga merupakan pemberian dari seseorang (yang juga penyair) yang telah membuat saya jatuh cinta bukan hanya pada puisi.
Baiklah, yang akan saya bahas di sini bukanlah buku Sepilihan Puisi; Hujan Bulan Juni karya Sapardi, tetapi adalah sebuah novel dengan judul yang sama dengan buku kumpulan puisi tersebut. Novel; Hujan Bulan Juni yang juga merupakan karya Sapardi.
Novel ini menceritakan sepasang tokoh bernama Sarwono yang asli Solo dan Pinkan yang keturunan Manado tetapi tumbuh di Solo. Pinkan dan Sarwono terlibat kisah cinta yang berjalan mengalir dari awal pertemuan, tumbuh bermain hingga mengerjakan project bersama, sampai akhirnya mereka harus menerima keadaan yang memaksa mereka untuk menjalani hubungan yang terpisah jarak. Namun mereka tetap terhubung dengan kemajuan teknologi yang tidak menghalangi mereka untuk tetap menjaga komunikasi.
Alur dan ending cerita yang mudah ditebak. Cerita yang sederhana. Tapi saya merasakan sekali bahwa saya turut terseret masuk ke dalam kisah dalam novel ini. Saat saya membaca novel ini dari awal, saya seolah menemukan sosok seseorang yang nyata di hidup saya dan menjelma  dalam tokoh Sarwono. Seseorang yang sama-sama menulis puisi dan muncul di beberapa media. Seperti Sarwono yang bertahan hidup dengan menulis puisi dan mengirimnya ke media hingga mengerjakan berbagai project yang mengharuskannya keliling berbagai kota dan menguras tenaga serta isi kepalanya.
Novel yang terdiri dari lima bab ini diakhiri dengan bab terakhir yang berisi tiga puisi. Dalam novel ini tidak akan kalian jumpai puisi Hujan Bulan Juni. Namun ada lembar-lembar yang pada tiap kalimatnya saya merasakan seperti membaca sebuah puisi karya Sapardi. Manis.
Novel ini sangat ringan dan berjalan mengalir serta asyik untuk dibaca. Saya jatuh cinta pada pemilihan diksi Sapardi dalam novel ini. Walau begitu saya juga agak kecewa karena isi novel tidak seperti yang saya harapkan. Saya tidak merasakan adanya unsur Hujan Bulan Juni dalam novel ini.

***

"Dia percaya pada teori yang menjelaskan bahwa inti kehidupan itu komunikasi dan komunikasi itu inti kehidupan. Dan bahwa puisi itu komunikasi, dan bahwa komunikasi itu shaman. Dan bahwa shaman itu medium. Dan oleh karenanya puisi itu medium. Hah!!!"
"Penyair adalah pembaca pertama puisinya sendiri, begitu menurut aksioma."

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena