Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 14 Juni 2015

Travelcamp - Puncak Bintang, Bandung


Welcome Juni. Selamat bercinta dengan hujan. Ternyata hujan datang lebih awal di bulan ini. Tepat di awal bulan Juni, tanggal satu. Hujan bulan Juni, kata Sapardi. Tidak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Benarkah?
Selain Hujan yang ditawarkan Sapardi pada bulan Juni, ada tawaran camping seru dari seorang teman.
"Camping yuk di Bukit Moko!"
"Yuuk! Lagi butuh piknik nih."
"Tengah bulan lalu baru aja piknik Jogja-Malang masih bilang butuh piknik?"
"Hhhhmmmm...."
Well,,, selama ada tawaran piknik dan tanggal merah di depan mata, cusslaaah...
Di awal bulan Juni ada tanggal merah. Tanggal dua. Berhubung rencananya camping dan tanggal satu masih kerja, jadi kami memutuskan untuk berangkat di senin malam, tanggal satu Juni. Diawal, perkiraan ada 25 orang yang ingin ikut camping, tapi di hari H menyusut dan hanya tersisa 5 orang.
Meet point KFC Kota Harapan Indah pukul 19.00.  Saya tiba di TKP sekitar jam setengah tujuh malam, langsung dari kantor. Ternyata jamnya karet, baru ngumpul semua dan berangkat pukul 20.30. Seharusnya bisa pulang dulu, mandi dan nggak perlu bawa gembolan besar ke kantor.
Tiba di Bandung sekitar pukul 23.00. Mobil naik-naik menuju bukit Moko sampai akhirnya terhenti di tengah jalan. Ada truk pasir yang muatannya tumpah ke jalan sehingga seluruh badan jalan tertutup dan tidak dapat dilewati. Huuffttt, saatnya menunggu lagi. Ternyata banyak mobil-mobil yang akhirnya parkir di sepanjang jalan. Bosan di dalam mobil, kami memutuskan turun dan melihat lampu-lampu kota Bandung dari atas. Bukit bintang? Bukan.
Saya yang sudah siap bobok dengan baju tidur ini, dibilang 'Anak Jakarta banget'. Ya memang tinggal dan besar di Jakarta. Keluar mobil tanpa jaket, nggak dingin? Nggak. Ada yang lebih dingin dan hampir beku. Hati. Eeeuuuwww…
Kemudian tiba-tiba jadi unmood. Suasana hati sebelumnya memang sedang tidak enak antara pergolakan batin perasaan dan logika yang rumit, lalu tiba-tiba dilanda rindu yang harus kembali dipendam. Belum lagi mikir, sudah hampir dini hari tapi belum sampai lokasi, belum pasang tenda pula.
tidur yang tertunda

antrian mobil karena truk pasir



Sekitar pukul 24.00 jalan mulai terbuka dan mobil bisa melanjutkan perjalanan. Saat mobil ingin naik ke bukit Moko, ternyata jalan sudah di tutup. Katanya, kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki, karena jika sudah di atas pukul 24.00 mobil harus parkir di bawah.
Pukul 00.30 hiking ke atas sambil membawa ransel, tenda, matras, dan lain-lain. Saya yang sudah merasa lelah, ingin cepat tiba di tempat dan mendirikan tenda untuk tidur, sedangkan yang lainnya butuh istirahat berkali-kali. ‘Anak gunung mah nggak ada capeknya, dasar!’ ada yang nyeletuk kalau saya anak gunung yang nggak ada capeknya dan nggak butuh duduk sebentar buat nafas. Heeeuuu,,, saya kan anak ibu bapak sayaa… Rasa lelah justru membuat saya tidak merasakan oksigen yang terkuras, hanya ingin cepat sampai baru bisa istirahat dengan tenang.
Tiba di tempat camp, keadaan gelap. Ternyata tempat camp kita bernama puncak bintang, bukan bukit moko. Karena terlalu gelap dan sudah lelah, kami memutuskan mendirikan tenda di dekat pintu masuk. Hhhmmm...
Sekitar pukul 02.00 kurang dan sudah bergotong royong mendirikan tenda, kami baru bisa bobok cantik di dalam tenda dan sleeping bag masing-masing. Sekitar pukul lima kurang sudah sangat berisik. Ya salah kami juga sih yang mendirikan tenda di dekat pintu masuk dan toilet. Seharusnya tempat camp masih harus naik sedikit lagi ke atas.
Pukul 05.00 kami bersiap karena katanya mau lihat sunrise. Tetapi yang terjadi adalah, langit justru berwarna biru tanpa matahari. Salah posisi. Salah lokasi. Sunrise naik ke permukaan dari balik rerimbunan hutan pinus. Jadi, di puncak bintang ini view yang bagus adalah untuk melihat sunset, bukan sunrise. Kecewa? Pasti. Tapi yasudahlah yaa.
Kami naik ke atas, berfoto dan berkeliling hutan pinus. Tempatnya lumayan bagus dan rapi. Tetapi buat saya sih biasa saja dibanding tempat-tempat lain yang pernah saya datangi. *sombong*
Eno, Dinda, Paul, Feti, Diah

Hutan Pinus

Hello...










still waiting you...



Sekitar pukul 08.00 kami membongkar tenda dan bersiap menuju tebing keraton. Sebelumnya kami ke bukit Moko yang dijanjikan sebelumnya. Ternyata bukit Moko adalah sebuah tempat makan dengan view yang mengarah ke kota Bandung. Hhhmmm... sangat diluar ekspektasi dan harapan saya yang begitu woow ternyata, 'cuma begini?'.
Masuk ke bukit Moko cukup membayar Rp 25.000 sudah plus paket makanan yang kita pilih. Jika tidak ingin makan dan hanya ingin masuk ke dalam dikenakan biaya Rp 10.000. Jadi, mendingan makan sekalian sarapan.
Sarapan

Mie Goreng kornet telur




Gantungkan cita-cita setinggi langit


Angkut tenda, matras, ransel, cemilan, dll...


Bukit moko




Sekitar pukul 11.00 kami baru turun ke bawah, ke parkiran. Kelamaan foto-foto jadi kesiangan. Biasalah kalau cewek-cewek maah yaa...
Tiba di tebing keraton sudah sangat siang. Saat di parkiran, baru tahu bahwa dari parkiran menuju tebing keraton masih 2,5 km lagi jaraknya, tetapi mobil hanya boleh sampai di parkiran. Sekarang, pilihan di tangan kami, ingin berjalan kaki atau naik ojek yang sudah tersedia. Berhubung ada yang nggak kuat kalau jalan sejauh itu dan jalannya juga naik-naik ke puncak bukit, kami memutuskan untuk naik ojek. Sekali jalan Rp 30.000, jika pp Rp 50.000.

For you, Love


best friends

girls

maybe tomorrow
Bukit Moko



Di perjalanan saya ngobrol dengan tukang ojek. Katanya, kalau mau datang ke Tebing Keraton itu subuh-subuh untuk lihat sunrise, bagus. Kalau bukit Moko mah untuk lihat sunset, katanya lagi. Sayangnya di Tebing Keraton tidak ada tempat untuk camp.
Tiket masuk tebing keraton Rp 11.000 per orang. Tiket ini sudah termasuk tiket terusan ke goa-goa dan curug yang letaknya ada di bawah. Beda tempat. Tiba di Tebing Keraton, kalimat yang terlontar lagi-lagi, "kayak gini doang?" Hehehe... Hanya tempat untuk berfoto-foto ditambah lagi penuhnya pengunjung karena hari libur. Panas, terik. Kami nggak lama di Tebing Keraton. Hanya berfoto. Kembali ke parkiran dan meneruskan perjalanan.

Tebing Keraton




Tebing Keraton

Untuk mengunjungi goa dan curug ternyata masuk dalam satu tempat wisata. Parkir dan menuju petunjuk arah. Bermodal percaya pada petunjuk arah kami mengunjungi goa Jepang  dan goa Belanda. Setelahnya kami ingin ke curug. Curug yang terdekat saja, tak perlu yang jauh.

Goa Jepang

Goa Belanda


Ketika kami menanyakan arah yang musti diambil jika ingin ke curug, tukang ojek lagi-lagi menawarkan jasanya. "Curug yang bagus masih 6 km lagi," katanya. Berhubung kami hanya ingin ke curug yang berjarak 1 km, kami menolak tawaran tukang ojek.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak. Rasanya kami sudah berjalan jauh sekali, lebih dari 1 km tapi tanda-tanda kehadiran curug tak juga kami temui. Sampai akhirnya cuaca mendung dan mulai turun rintik-rintik hujan. Ingin berbalik kembali merasa sayang, akhirnya ada dua tukang ojek yang lewat dan menawarkan jasa. Kami yang sudah lelah dan frustasi akhirnya mengiyakan jasanya. Kami berlima dibagi kedalam dua ojek. Kami diantar ke curug Omas yang berjarak 6 km itu. Yang katanya curug paling bagus.
Di bayangan kami, curug yang tinggi, bersih dan bisa dibuat bermain air. Saat tiba di lokasi, kami semua merasa ditipu. Ditipu petunjuk jalan dan opini tukang ojek yang mengatakan curug itu bagus. Curugnya ternyata adalah sebuah ‘kali’ dengan banyak sampah dan arus yang deras serta air yang cokelat. Terletak di bawah jembatan gantung yang menurut saya sudah tidak layak dan sangat mengerikan. Tidak ada sepuluh menit kami di sana. Dan memutuskan untuk kembali dengan ojek yang sama. Rp 70.000 sampai parkiran untuk satu motor.

Jembatan Gantung Curug Omas


Curug Omas
Monyet di Curug Omas


Jangan percaya petunjuk arah ini !!!

Curug Omas


Di perjalanan, saya menanyakan tentang keberadaan curug-curug dan tempat wisata lain yang ada di petunjuk arah. Katanya, curugnya ada tetapi aksesnya yang belum ada. Disitu saya murka dan merasa ditipu oleh pihak pengelola tempat wisata. Kalau memang belum bisa diakses kenapa dimasukkan dalam petunjuk arah? Saya melihat banyak korban yang seperti saya. Sudah jalan jauh dan jauh tetapi tidak ada hasil. Mengeluarkan uang lebih yang nyatanya pengorbanan tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Sekali lagi saya sangat kecewa dengan pihak pengelola tempat wisata tersebut. Sangat amat mengecewakan. Saya akan berfikir ribuan kali untuk datang ke tempat tersebut lagi.
Kami keluar dari jebakan tempat wisata itu pukul 15.00 dengan peluh dan lelah serta kecewa yang teramat sangat. Tiba di Bekasi Barat pukul 18.00. Mampir pom bensin untuk sholat dan kemudian kembali ke Kota Harapan Indah. Saya turun di stasiun kranji untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah menggunakan commuterline.
Piknik kali ini sungguh melelahkan. Hanya lelah dan kecewa yang saya dapat. Tapi setidaknya suasana camping yang saya rindukan cukup mengobati rindu. Hanya camping dan suasana di puncak bintang yang dapat saya nikmati pada perjalanan kali ini. Dan juga kebersamaan bersama teman pastinya. Thanks, girls…


@fetihabsari

2 komentar:

Gria madya mengatakan...

Kak mau tanya kalo kita camp d bukit moko d kenakan biaya tambahan kah?

Feti Habsari mengatakan...

Kalau di bukit moko saya kurang tahu, tapi sepertinya ada biaya untuk camp.

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena