Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 14 Juni 2015

[Novel; Review] - Jatisaba




JATISABA - RAMAYDA AKMAL
Novel unggulan - pemenang sayembara novel DKJ 2010.

Cetakan pertama, diterbitkan oleh:
ICE (Institute for Civil Empowerment) Yogyakarta

Cetakan kedua, diterbitkan oleh:
Era Baru Pressindo, Yogyakarta.


Mae, seorang wanita mantan pekerja migran yang mengalami nasib malang, terpaksa menjalani nasib buruk yang lain: menjadi kaki tangan sindikat perdagangan manusia internasional. Ironisnya, Mae diperintah untuk mencari korban di desa kelahirannya sendiri. Perjalanan ini mengantarkannya pada berbagai peristiwa yang mengaduk-aduk perasaan: nostalgia kehidupan desa, romantisme cinta masa lalu, dan jerat-jerat para makelar politik lokal yang serba rumit. Sementara itu, di tempat yang tidak terduga, jaringan besar kepolisian dan sindikat yang menginginkan dirinya mati terus mengejarnya.
Novel ini mengisahkan nasib malang para pekerja migran serta kekejaman sindikat perdagangan manusia dan nasib para korban yang memilukan.

***

Jatisaba adalah keping-keping ingatan tentang bekas kampung halaman yang terjalin melalui penghayatan, pemakluman, pembekalan, dan hasrat untuk selalu ingin melemparkan diri kembali ke masa lalu.

Pergilah, jangan meminta lambaian. Supaya kau tetap haus dan berharap.

Mae. Tokoh utama dalam cerita ini sungguh lugas menceritakan perihal hidup, nasib, dan masa lalunya. Dalam novel ini terjadi pergolakan batin yang dialami Mae.
Ia kembali ke kampung halamannya, Jatisaba. Menjenguk hidup yang selama ini telah ia tinggalkan. Menjenguk masa lalu yang sudah runtuh tertutup ilalang dan lumpur. Menjejakkan kaki di atas galengan yang sudah lama tak ia temui. Dan juga, menziarahi cinta pertamanya. Cinta pertama yang sampai detik ia masih bernafas tak akan pernah berkurang rasanya.
Meski cinta pertamanya sudah memiliki hidupnya sendiri, keluarga kecil. Rasa yang dimiliki Mae tidak pernah berubah. Hatinya tidak pernah berpaling.

"Tak ada yang bisa kita lakukan. Biarkanlah seperti ini. Biarkanlah semua berjalan semau pikiran itu sendiri. Kalau harus sampai mati aku mengenang dirimu, aku akan menerimanya. Tapi biarkan aku di dalam pelukanmu ini. Aku ingin sejenak amnesia, tidak mengingat apa pun kecuali perasaan terhadapmu."

Kenikmatan dari perpisahan ada pada ketidakrelaan kita untuk pergi...

Mae kembali ke tempat kelahirannya bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga bekerja. Memenuhi tugas dari bos besar brengseknya itu. Dengan batin yang gamang, ia mengorbankan orang-orang yang ia kasihi di Jatisaba, orang-orang yang memiliki ikatan masa lalu dengannya. Menumbalkan mereka kepada bos besarnya. Menjerumuskan mereka ke dalam lubang hitam yang tak akan pernah bisa lagi mereka keluar. Lubang yang selama ini dihuni olehnya. Merusak dan menghanguskan hidupnya. Berkelana dari satu negara ke negara. Satu ranjang ke ranjang yang lain. Desah nafas yang dikuasai nafsu para binatang-binatang berotak.
Jatisaba. Desa yang tak akan pernah tenang ketika pemilihan Kepala Desa berlangsung. Segala fitnah, kecurangan, kejahatan, suap menyuap, dan segala apapun yang dapat dilakukan demi kemenangan. Ritual-ritual adat yang tetap dilakukan. Mereka, keluar dari lubang buaya untuk masuk ke kandang singa.
Saya memberi novel ini 5 dari 5 bintang. Tidak saya temui kekurangan dari novel ini. Alur yang jelas dan kisah yang tergambar lugas sangat nikmat untuk dibaca tanpa ingin berhenti hingga halaman akhir. Font yang digunakan cukup memanjakan mata untuk membacanya dan tidak ditemukan typo.
Dengan ending yang tak terduga, kisah ini cukup menarik dan tidak sia-sia untuk diselesaikan. Sebuah novel dari Ramayda Akmal ini cukup menginspirasi, menurut saya.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena