Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 14 Juni 2015

[Novel; Review] - Drama Mangir



drama MANGIR
oleh
Pramoedya Ananta Toer



Blurb.......

Setelah Majapahit runtuh pada 1527, Jawa kacau balau dan bermandi darah. Kekuasaan tak berpusat, tersebar praktis di seluruh kadipaten, kabupaten, bahkan desa. Perang terus menerus menjadi untuk memperebutkan penguasa tunggal. Permata-permata kesenian, baik di bidang sastra, musik, dan arsitektur tidak lagi ditemukan. Selama hampir satu abad jawa dikungkung oleh pemerintahan teror (schrikbewind), yang berpolakan tujuan menghalalkan cara.
Salah satu bentuk pemerintahan teror itu diungkapkan secara jernih dalam buku ini. Penembahan senopati, raja Mataram kurun 1575-1607, yang bercita-cita menjadi penguasa tunggal, menundukan perlawanan gigih penduduk desa Mangir dengan cara kotor dan keji. Wanabaya atau Ki Ageng Mangir, pemimpin desa yang letaknya kurang 20 km dari ibukota, dirayu putri kesayangan. Senapati dijebak, dan kemudian dibunuh dalam sebuah pertemuan keluarga.
Buku ini, yang ditulis Pramoedya di Pulau Buru dan sempat hilang beberapa tahun, membuka wawasan kita untuk melihat lebih seksama kelemahan dan ketimpangan sistem pemerintahan silam, serta pengaruhnya pada masa sekarang.

***

Dalam buku ini, Pram mencoba untuk menguak sanepa (kiasan) yang selama ini terjadi atau didengar.
Dalam bagian pertanggung jawaban, Pramoedya (hlm.xxii) mengemukakan
sebagai berikut:
Cerita tentang Mangir merupakan permata dalam kesusastraan Jawa setelah masuknya Islam, bukan karena bentuk sastranya, tetapi karena makna sejarahnya......
Penulisannya dalam bahasa Jawa, atau tepatnya dalam Babad Tanah Jawi, terpaut seratus lima puluh sampai dua ratus tahun setelah kejadian yang sesungguhnya, sehingga melahirkan cerita-cerita lisan dengan berbagai macam versi, versi Mataram dan versi Mangir, versi istana dan versi desa......
Selain itu, ditambah dengan tradisi Jawa yang terlalu hati-hati dalam menuliskan raja-raja atau dinastinya yang masih berkuasa, pujangga-pujangga Jawa terpaksa menempuh jalan sanepa atau kias. Sebaliknya, pembaca berabad kemudian juga terpaksa harus dapat
membuka kunci-kunci sanepa itu untuk dapat memahami maksud-maksud mereka.
Sanepa yang dibahas Pram menyangkut nama Baru Klinting. Dalam versi Babad Mangir (dan juga cerita lisan) Baru Klinting berwujud ular yang kelahirannya diawali dengan kejadian yang spektakuler saat Kiai Ageng Mangir (tua) mengadakan upacara tingkeban untuk istrinya yang hamil tua.

Banyak versi mengenai Baru Klenting ini...

Lebih lanjut, Pramoedya (hlm. xxv) menunjukkan adanya kecenderungan umum dalam sejumlah cerita rakyat, legenda, atau mitos di Nusantara bahwa musuh atau tokoh yang tidak disukai oleh pujangganya atau dinasti yang berkuasa diwujudkan dalam bentuk bukan sepenuhnya manusia, tetapi dalam wujud hewan atau manusia yang cacat fisik.
Dalam pertunjukan-pertunjukan, Baru Klinting selalu ditampilkan sebagai ular atau tombak pusaka. Namun dalam cerita drama Mangir yang ditulis Pram ini, Baru Klenting digambarkan sebagai seseorang berwujud manusia yang selalu menemani Ki Ageng Mangir (muda) Wanabaya.
Dalam drama ini, Pramoedya Ananta Toer pun mengisahkan cara Ki Ageng Mangir Wanabaya menemui ajalnya.
Pada cerita lisan dan Babad Mangir, kematian Ki Ageng Mangir Wanabaya sangat tragis, yaitu kepalanya dibenturkan ke Watu Gilang oleh Panembahan Senapati saat Wanabaya memberi sembah. Untuk menambah
ketragisan posisi Wanabaya, ia dikuburkan dengan posisi separuh badan berada di dalam pagar istana dan separuh lainnya di luar pagar istana. Dengan ungkapan lain Wanabaya “dari pusat ke kaki diakui dia menantu raja, dari pusat ke kepala dia dianggap musuh Mataram.”
Dalam versi Pramoedya, Wanabaya, Baru Klinting, dan rombongannya disergap di dalam istana Mataram. Saat penyergapan itu, Wanabaya dan Baru Klinting terpojok. Dalam pertempuran itu Ki Ageng Mangir Wanabaya ditikam oleh Pangeran Purbaya, sedangkan Baru Klinting ditombak dari belakang oleh Panembahan Senapati. Mereka tewas dalam pertarungan yang tidak seimbang karena posisi mereka tersudut sebagai hasil siasat jebakan yang dirancang Tumenggung Mandaraka alias Juru Martani, penasihat istana.
Ki Ageng Mangir Wanabaya dijebak dengan cara dipikat oleh putri Pembayun yang merupakan putri dari Panembahan Senapati. Ketika Ki Ageng Mangir Wanabaya teebunuh pun Putri Pembayun sedang mengandung.
Yang saya tangkap dari drama ini adalah benar bahwa cerita ini membuka wawasan kita untuk melihat lebih seksama kelemahan dan ketimpangan sistem pemerintahan masa silam, serta pengaruhnya pada masa sekarang. Rela melakukan apa pun demi mendapatkan kekuasaan.






@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena