Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 01 Juni 2015

Hujan Bulan Juni

"Ini sudah Juni, meski tak ada hujan yang tabah," katamu.

Kupikir, Juni tak akan ada lagi hujan. Hanya panas dan terik yang menyengat. Membakar seperti halnya cemburu yang selalu memburu. Namun nyatanya hujan datang lebih awal di bulan ini. Turun dan berlari-larian.

Hujan di bulan Juni, kata Sapardi.

Adakah yang lebih tabah dari hujan bulan Juni milik Sapardi?

Dan, katamu lagi, "tak ada hujan yang tabah."

Bagaimana dengan hujan di pelupuk mata yang juga deras di awal bulan Juni? Cukup tabahkah ia menurutmu? Kurasa jawaban yang akan terlontar dari mulutmu adalah tidak.

Adakah yang lebih tabah dari hujan bulan Juni milik Sapardi? Yang turun memendam segala kerinduan, mengalirkan segenap doa, membumbungkan segala harap.

Tabahkah hujan di pelupuk mata? Yang mengalirkan mantra-mantra doa atas rindu-rindu yang tak lagi terjamah. Egoiskah hujan di pelupuk mata yang mengharap waktu sekedar kecup? Hinakah jika ia mengemis sedikit perhatian yang tak lagi dirasa?

Ia belajar tabah dari hujan bulan Juni milik Sapardi. Ia belajar tabah menyirami api cemburu melalui hujan yang lain. Berharap segala luka dan kecewa menguap dibawa serta.

Meski entah sampai kapan rindu-rindu ini tabah memilihmu, menunggumu sebagai tempat berpulang. Melalui hujan yang tak pernah bisa berucap.

Aku percaya, ada hujan yang lebih tabah dari hujan bulan Juni milik Sapardi.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena