Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Jumat, 10 April 2015

Lampung; Pahawang - Kiluan



Perjalanan dadakan atas dasar racun dari seseorang dengan modal nekat tanpa perhitungan biaya. Satu minggu sebelum keberangkatan dikabari Kak Dewi kalau tanggal 3-5 April mau ke Lampung. "Ikut nggak?" tanyanya. Tanpa berfikir pun langsung jawab, "Ikuuuutt!!!".
Oke, planing awal di bulan April mau naik gunung Pangrango di tanggal 26 April terganti dengan perjalanan dadakan ke Lampung.
"Di Lampung mau ngapain sih?"
"Durenan."
"What? Niat banget durenan doang ke Lampung. Terus apa kabar nasib gue yang nggak doyan duren?"
"Salah siapa nggak doyan duren."
"Salah keadaan yang menakdirkan gue buat nggak mencintai duren."
Jadi intinya niat awal mereka (Kak Dewi, Mba Gigit, Bayu, Mas Danang, dan Mamanya Mas Danang) ke Lampung adalah pure untuk durenan. Terus nasib gadis kecil yang nggak suka duren ini yaa mungkin bakal nontonin mereka durenan aja. *self puk-puk*.
Beberapa hari menjelang keberangkatan, Mas Danang mengabari kalau nggak jadi ikut ke lampung. Loh? Kok? Secara Mas Danang yang jadi racun awal untuk ke Lampung tapi malah dia yang mundur. Hhhmmm... Jangan khawatir, kami (Saya, Kak Dewi, Mba Gigit, dan Bayu) tetap berangkat via Merak-Bakauheni pakai mobilnya Bayu. Sedangkan mamanya Mas Danang menggunakan pesawat dari Bandung.
Kami berempat berencana berangkat kamis malam (2 April 2015). Sudah fix janjian pukul 20.00 di Sawah Besar dengan kak Dewi dan Mba Gigit. Tanpa disangka malam itu adalah menjadi malam yang sungguh terlalu tidak manusiawi untuk para pengendara di Jakarta dan sekitarnya. Macet total teramat parah. Gini nih, ada aja cobaannya kalau rencana sudah rapi. Yang biasanya dari kantor pukul 16.00 dan pukul 18.00 sudah sampai rumah, kamis malam itu sungguh luar biasa baru sampai rumah pukul 20.30.
Rencana berubah. Bayu yang terlalu cinta pada kerjaannya itu masih anteng pacaran dengan laptopnya di kantor, akhirnya kita (Saya dan Kak Dewi) langsung ke kantornya saja. Malam itu hujan juga mengguyur Jakarta. Hujan, macet, alhasil naik ojek pukul 21.00 menuju kantornya Bayu di RSPJ Cempaka Putih. Nggak sampai sejam sudah sampai RSPJ. Nunggu Bayu yang masih asik sama laptopnya sampai jam duabelasan kurang. Kemudian langsung jemput mba Gigit di Sawah Besar.
Sekitar pukul 01.00 dini hari langsung jalan ke Merak. Sampai Merak sekitar 02.30 dan langsung antri masuk kapal setelah membayar Rp 360.000 untuk satu mobil. Antri masuk kapal lumayan lama. Sempat bobok sebentar di mobil sampai akhirnya mobil bisa masuk kapal. Setelah parkir di dek, kami masuk ruang bisnis dengan membayar Rp 7.000 per orang. Cari tempat dan langsung lanjut bobok. Kapal baru bertolak dari Merak sekitar pukul 5.30 dan tiba di Bakauheni pukul 6.50. Sepertinya kapal yang kami naiki tidak terlalu besar, jadi mungkin jalannya cepat.
Setelah mobil berhasil keluar dari kapal kami langsung menuju daerah Wayhalim tempat Tante Sri (mamanya Mas Danang). Kami tiba di Wayhalim sekitar pukul 09.00 dan nggak lama kemudian tante Sri tiba juga. Di sini sebenarnya suasana agak crowded. 8Kami sarapan dan numpang mandi lalu di ajak ke Taman Kupu-kupu. Dan ternyata di sanalah tempat durennnya. Tempatnya asik sih buat main, tapi banyak nyamuk.

Rumah Pohon

Kupu-kupu

Kupu-kupu

Sekitar pukul 15.30 kami pamit dan berpisah dengan tante Sri. Kami menginap di rumah budenya Mba Gigit di daerah Wayhalim. Hampir magrib kami tiba di rumah yang nggak ditempati itu. Sampai sana bersih-bersih dulu karena tempatnya yang cukup kotor dan nggak ada air karena pompa air mati. Bayu yang seharian sudah lelah nyetir berusaha buat benerin pompa air, tapi sepertinya pompanya memang harus diganti.
Selepas magrib, kami menuju hotel Sahid untuk menemui Mba Nana dan Nhaznin (anaknya Mba Nana berumur 5 tahun yang kalau ngobrol musti pakai bahasa inggris) yang mau gabung untuk ke Pahawang besok. Setelah dari hotel Sahid kami menuju toko Yen-yen untuk membeli oleh-oleh. Selesai beli oleh-oleh, Mba Gigit dan Bayu sudah pilih-pilih duren Rp 100.000 dapat 11 buah. ((Durenan lagii)). Kebayang dong aroma mobil dengan sebelas duren di dalamnya.
Kemudian kami menuju mall Kartini untuk ikutan Berbagi Nasi Lampung. Kami keliling mencari target dengan berjalan kaki. Dan saya melihat sendiri bahwa di Lampung, beberapa premannya justru mencari kami untuk minta jatah nasi-_-". Berbagi nasi selesai pukul 01.00 dan kami langsung kembali ke Wayhalim untuk istirahat.

Bayu dan Mba Gigit pilih-pilih duren

Bareng Berbaginasi Lampung

Hari kedua di Lampung, planing kami adalah menuju Pahawang Island. Tanpa mandi, hanya sikat gigi dan cuci muka di masjid kami langsung menuju dermaga ketapang pukul 06.30. Estimasi lama perjalanan kata teman sekitar 2 jam. Tapi kami tiba di sana nggak sampai sejam. Secara Bayu bawa mobilnya rada gila. Kapal yang kami sewa bertolak dari dermaga pukul 08.00. Setelah menunggu rombongan Mba Nana tiba, kami langsung naik kapal dan meluncur menuju Pahawang.

Paradise!!!

Ocean!!!

Subhanallah pemandangan yang disuguhkan alam Indonesia ini. Hamparan laut dengan airnya yang jernih dan kanan kiri pegunungan. Kami tiba di Pahawang besar dengan hamparan pasir yang menjorok hingga ke tengah lautan menghubungkan dengan Pahawang kecil. Tanpa pikir panjang kami lompat dan bermain air. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat snorkling dan ke sebuah pulau yang sungguh cantik. Pulau-pulau di sana adalah pulau tak berpenghuni. Beberapa pulau di sana milik mr Jo (orang Prancis). Pulau-pulau tersebut dilarang untuk umum. Mr Jo dan masyarakat sekitar semacam simbiosis mutualisme. Mr Jo memberi banyak untuk masyarakat sekitar, seperti pendidikan dan kesehatan.

Reflexion

ceritanya mau selfie sambil snorkling




Niatnya sih mau foto sama Nhaz, eehh...




i love my island


Pukul 13.00 kami kembali ke dermaga ketapang, padahal Nhaz masih ingin berenang. Sampai di dermaga ketapang kami mandi dan mengeluarkan duren semalam. Alhasil mereka menikmati duren di pinggir pantai. Nhaznin yang awalnya nggak doyan duren pun akhirnya ikut melahap bersih duren. Hanya saya yang nggak mengicip buah tersebut. Pukul 15.30 kami (Saya, Kak Dewi, Mba Gigit, dan Bayu) melanjutkan perjalanan ke Kiluan. Sedangkan Mba Nana dan rombongan kembali ke kota Bandar Lampung.

Durenan di dermaga Ketapang


Dermaga Ketapang bersih



Estimasi perjalanan dari dermaga ketapang ke Kiluan adalah 3 jam perjalanan dengan keadaan jalan berliku, kanan kiri jurang, ditambah jalan yang rusak dan berlubang. Tapi, lagi-lagi, nggak sampai dua jam kami sudah tiba di Kiluan setelah mobil gonjang-ganjing, lompat sana-sini seperti roller coaster. Kami tiba di Kiluan saat senja tenggelam. So beautiful.


Sebelumnya direkomendasikan oleh teman bahwa jika ingin ke Kiluan, bisa booking penginapan dan perahu untuk dolphin trip di Anak Abah. Awalnya kami sudah berencana untuk tidur di mobil jika tidak mendapat penginapan. Karena perkiraan kami pasti di Kiluan akan ramai wisatawan sebab bertepatan dengan long weekend. Namun ternyata kami pas memilih waktu. Puncak kepadatan wisatawan adalah siang tadi, jadi sore ini Kiluan sudah mulai sepi.

Saat kami melihat-lihat keadaan dan lingkungan sekitar, kami melihat mobil Anak Abah terparkir. Setelah proses diskusi dan tawar menawar, kami mendapatkan penginapan untuk malam ini seharga Rp 250.000 dan satu kapal untuk dolphin trip sebesar Rp 300.000. Kapal untuk dolphin trip max diisi 3 orang, berhubung kami berempat, kami diijinkan untuk mengisi satu kapal dengan 4 kepala.
Untuk menuju ke Penginapan, kami harus menyebrang dengan kapal. Mobil diparkir di sebelah mobil Anak Abah. Dengan membawa perlengkapan seperlunya kami menyebrang menuju penginapan yang letaknya nggak jauh dari bibir pantai. Kami yang sedari pagi hanya makan pop mie di atas kapal ketika di Pahawang, mulai kelaparan malam itu. Bermodal 4 bungkus indomie goreng jumbo, kami meminta jasa orang penginapan untuk merebusnya dengan memberi tips Rp 20.000 plus dapat nasi banyaak.

Di Jakarta nggak bisa begini

nyebrang ke penginapan

sunset di teluk Kiluan

Malam itu menjadi malam yang sangat panjang untuk saya dan Kak Dewi. Penginapan satu ruangan untuk 4 orang tanpa kipas angin apalagi AC. Panas sekali malam itu. Pukul 22.00 saya dan Kak Dewi keluar untuk mencari angin, namun angin pun tengah terlelap sepertinya. Alhasil malam itu saya dan Kak Dewi hanya tidur ayam dengan tangan pegal karena kipas-kipasan pakai kertas. Mba Gigit lumayan bisa tidur walau setengah pulas dan sempat kambuh gatal-gatalnya. Sedangkan Bayu tertidur dengan sangat amat pulas. Mungkin saking lelahnya nyetir mobil seharian dan besok harus nyetir lagi, jadi dia langsung terlelap dengan jaket yang masih melekat. Itu orang nggak ada gerah-gerahnya sama sekali deh.
Pukul 06.00 kami sudah siap untuk dolphin trip. Langit kurang mendukung. Gerimis. Perjalan kami ke tengah teluk masih ditemani oleh gerimis deras. Hingga tiba di tengah teluk, fajar mulai naik dan langit pun berhenti menangis. Lumba-lumba pun melompat-lompat rendah dengan begitu cantiknya. Rasa syukur kembali terucap atas keindahan ciptaan-Mu.

suasana pantai di pagi hari

Teluk Kiluan



Sekitar pukul 09.00 kami kembali ke penginapan. Niat untuk snorkling, tapi tidak jadi. Kemudian bertemu Jimmy (teman dari Mas Tatang-pemilik penginapan Anak Abah). Jimmy memiliki project penananaman terumbu karang sekitar 5 meter dari bibir pantai dekat penginapan. Dari Jimmy, kami sedikit mendapat pencerahan. Kerusakan yang terjadi pada karang disebabkan atas ulah kita sendiri sebagai wisatawan. Kita yang kurang peduli, turun ke bawah, snorkling dan tanpa sengaja menginjak-injak terumbu karang. Rusaklah biota laut kita secara perlahan. Intinya, sebagai penikmat, kita harus bisa lebih peka dan peduli pada lingkungan jika kita ingin anak cucu kita melihat keindahan alam yang saat ini tengah kita lihat. Thanks Jimmy. See you next time.

Pelangi di pagi hari
yeayyy dolphin i'm coming


Dolphin !!!

Kami di suruh sarapan karena kami memberitagukan niat kami untuk menuju Laguna. Perjalanan menuju Laguna membutuhkan tenaga. Kurang lebih 30 menit perjalanan (jalan kaki) dengan naik turun bukit. Kami kembali ke parkiran dan langsung diantar oleh Yogi (guide) untuk menuju Laguna. Tiket masuk Laguna Rp 5.000 per orang dan ada penyewaan pelampung Rp 5.000 per pelampung. Perjalanan cukup menguras tenaga. Perjalanan mendaki cukup terjal dan jalan sudah disemen, lalu perjalanan menuruni bukit dengan tangga-tangga. Kami melewati bebatuan dan batang-batang kayu yang dibuat jembatan dengan pegangan tali. Tapi pemandangan yang di dapat akan membayar usaha perjalanan kalian kok.



snorkling at Laguna


cantiik

bye Kiluan

Sekitar pukul 12.00 kami kembali ke parkiran. Mandi di rumah penduduk dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Bakauheni. Perjalanan menuju Bakauheni dari Kiluan sekitar 4 jam dengan mampir ke masjid dan makan.
Kapal bertolak dari Bakauheni sekitar pukul 19.00 dan tiba di Merak pukul 21.00. Mobil keluar kapal sekitar pukul 22.00 dan langsung meluncur menuju jakarta dengan kecepatan 130-140 km per jam. Tiba di rumah dengan selamat pukul 00.30.

thanks guys
Thanks guys for relaxing holiday!!!

Jika kamu hanya terus mengurung diri, maka kamu tidak akan merasakan rasa syukur lebih atas surga dunia ciptaan-Nya. Perjalanan adalah bagian dari hidup. Sebuah perjalanan adalah kenangan yang tak dapat dibeli. Perjalanan merupakan hal yang tak dapat ditukar.
Tetaplah berjalan, menyusuri alam serta mensyukuri segala keindahan ciptaan-Nya. Dan jangan lupa tetap menjaga dan peduli pada lingkungan sekitar. Agar keindahan tak cepat pudar.



____________*____________

Satu kali penyebrangan untuk satu mobil = Rp 360.000
Ruang istirahat kapal Bisnis Rp 7.000 dan eksekutif Rp 10.000
Pahawang;
Satu kapal (max 10 orang) Rp 400.000
Alat snorkle Rp 50.000 per alat
Kiluan;
Penginapan Rp 250.000 per malam
Satu kapal (max 3 orang) Rp 300.000
Laguna Rp 5.000 per orang
Guide Laguna Rp 50.0000
Pelampung Rp 5.000 per pelampung
Makan Rp 15.000 per porsi


atas : saat tiba di Lampung, bawah : keadaan menuju Jakarta

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena