Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 23 September 2014

NJEMPARING RASA; Menarik Busur Sejarah Membidik Masa Depan





Pertunjukan kolaborasi Drama Kolosal Sumantri-Sukrasana Njemparing Rasa; Menarik Busur Sejarah Membidik Masa Depan akan digelar di Lapangan Grha Sabha Pramana UGM Yogyakarta  pada Minggu (12/10) pukul 19.30. Drama ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY yang bekerja sama dengan PKKH UGM (Purnabudaya)Tema yang diusung adalah “Keistimewaaan Yogyakarta Sebagai Pijakan Pembangunan Karakter Bangsa”.
Naskah yang mengangkat tema “Keistimewaan Yogyakarta sebagai Pijakan Pembangunan Karakter Bangsa” ini sudah dipersiapkan sejak pertengahan 2013.  Setelah penyusunan naskah yang dilakukan oleh Whanny Darmawan, Bondan Nusantara, Punthung CM Pudjadi, Indra Tranggono, Susilo Nugroho, Suharno, Faruk HT, Ari Purnomo, Anes Prabu Sudjarwo, Suharmono dan Tri Wahyudi  akhirnya terjadi dua kali penyuntingan. Ada beberapa konten baru yang dimasukkan dan menghapus beberapa konten lama. Di antaranya mengubah naskah menjadi cerita berbingkai, perubahan pada pembabakan, dan beberapa perubahan isi. 
Sumantri-Sukrasana menyajikan sesuatu yang berbeda dari naskah-naskah drama yang pernah ada sebelumnya. Semua tokoh merefleksikan kehidupan manusia saat ini. “Sukrasana adalah simbol dari generasi saat ini. Sebagai manusia jangan hanya nrimo ing pandum. Karena kita pernah menjadi bangsa yang besar dengan peradaban yang  peninggalannya masih dapat dinikmati hingga saat ini. Kita pernah memiliki masyarakat yang berbuat sesuatu, tidak hanya mengikuti,” kata Suharmono selaku produser.
Dalam hal artistik, kegiatan ini melibatkan penata-penata yang mumpuni sesuai bidangnya, antara lain penata lakon Sugito HS, penata lampu Wahyu Hidayat, penata tari Surono, penata iringan Fajar Tri Sabdono, penata artistik Beni Wardoyo, penata multimedia Syaiful Uyun, dan penata rias Ester Krisnawati. Selain itu, pementasan akan dikemas secara outdor dengan menggabungkan beberapa unsur kesenian. Meliputi video multimedia, tari, gamelan, teater,  seni tradisi, musik, dan lainnya. Konsep artistik panggung yang akan dipakai adalah background  berwarna hijau disertai busur menghadap ke atas dengan kuncup bunga padma.
Proses latihan dilaksanakan di PKKH UGM dengan melibatkan kurang lebih 110 seniman muda Yogyakarta. Di antaranya Ndaru Murtopo, Annisa Hertami, Ahmad Jalidu, Hasta Indriyana, Catur Stanis, Sapta Sutrisno, Mustain, Agustine Pandhuniawati, Febrinawan, Irfanuddien, Windhi, Rendra Bagus, Arif Gogon Kurniawan, Ahmad Hasfi, dan Sandro Sandoro.
“Saat ini, latihan yang terdiri atas aktor, tari, dan musik masih dilakukan sendiri-sendiri. Setelah semuanya siap, baru kemudian dipertemukan menjadi satu. Latihan yang seharusnya hanya 10 kali, ditambah menjadi 25 kali. Kendalanya karena pertunjukkan ini tidak hanya melibatkan satu kelompok teater, tetapi dari berbagai komunitas sehingga sulit untuk menyamakan waktu ketika latihan karena kesibukan masing-masing,” papar  Anes Prabu Sudjarwo, sutaradara Njemparing Rasa.
Drama kolosal yang didukung tidak kurang dari 250 pelaku seni Yogyakarta ini diharapkan dapat menjadi “Pijakan Pembangunan Karakter Bangsa” sehingga melahirkan orang-orang yang tidak hanya menunggu mendapat perintah, tetapi sanggup bertindak untuk mencapai perubahan.







Info di atas dikutip dari sini ͢→ NJEMPARING RASA



0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena