Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 11 Agustus 2014

#BGANia : Pertemuan


Terkadang hanya akan ada sepasang kaki yang selalu melangkah, menjejak pada tanah basah pun aspal gersang untuk kemudian tiba pada suatu tujuan pasti ataupun samar. Akan tiba saat ia lelah menjejak, kesepian melangkah. Namun ia tahu, lelahnya akan terbayar, sepinya akan tertebus. Entah apa yang membuatnya melakukan sebuah perjalanan. Entah, apa yang akan ditemukan dalam sebuah perjalanan.
Yang kamu tahu, tepat pada sebelas Agustus satu tahun yang lalu, bukan hanya sepasang kaki yang melangkah, tapi dua. Ada dua pasang kaki yang melangkah, melakukan perjalanan untuk sebuah pertemuan bahagia menemukan cinta. Mungkin.

***

Satu tahun yang lalu, tepat pada tanggal dan bulan yang sama, kalian bertemu. Pertemuan pertama yang terjadi antara disengaja dan tanpa disengaja. Antara terduga dan tak terduga. Satu tahun lalu, yang tepat jatuh pada hari ini, kalian saling bertukar pandang, mengisyaratkan tawa untuk sebuah rasa.
Tepat! Sebelas Agustus satu tahun yang lalu, diam-diam priamu ingin meraih jemarimu, menggamnya ketika kalian ingin menyebrang jalan pada pertemuan pertama. Namun kamu terlalu naif, pura-pura berjalan menjauh dan mengabaikan perlindungannya.
Satu tahun yang lalu, ketika kalian bertemu, kamu berpikir bahwa semua akan baik-baik dan tak lagi menyangkut perihal hati. Kamu salah! Ya, kamu salah! Nyatanya, ada rasa yang tercabik. Ada hati yang diam-diam menangis. Priamu telah memiliki kekasih.
Ternyata ada hati yang tak rela. Ternyata ada rasa yang diam-diam ingin sedikit lebih diperjuangkan. Kecewa? Mungkin. Namun, lagi-lagi semua salah tak dapat dilimpahkan pada priamu. Kamu yang terlalu naif. Bicara perihal 'hanya' pertemanan dengan priamu ketika ia meminta kepastian beberapa bulan yang lalu. Dan, kini ketika priamu telah memiliki kekasih, harusnya kamu tak berhak marah. Tak berhak kecewa. Meski nyatanya diam-diam ada celah yang mengais, memohon pada hati agar tak patah. Kamu menangis (lagi) atas keputusanmu sendiri.
Itulah kamu. Jiwa lemah yang selalu terkecoh oleh rasa, terombang ambing dalam untaian kata, lalu terdampar pada cinta yang salah. Kecewa atas keputusan sendiri. Itulah kamu.
Tepat! Sebelas Agustus satu tahun yang lalu kalian bertemu. Tepat satu hari sebelum tanggal kelahiranmu. Kamu pikir pertemuan pertama kalian akan menjadi hadiah indah pada tahun itu. Nyatanya, lagi-lagi kamu peroleh hadiah yang sama seperti dua tahun lalu, tiga tahun lalu, dan empat tahun lalu. Tepat! Empat kali berturut-turut kamu rayakan hari kelahiranmu dengan banjirnya kelenjar air mata. Sesial itukah hari kelahiranmu?
Dan entah kejutan indah Tuhan seperti apa yang telah Ia persiapkan untukmu. Hingga tepat pada hari ini, sebelas agustus di tahun ini, ada sejuta senyum merekah dan bahagia yang menghujanimu. Semua tersebab priamu. Priamu yang tepat setahun lalu___tanpa priamu sadari___telah membuatmu kecewa pada pertemuan pertama kalian. Priamu yang tepat setahun lalu___ketika pertemuan pertama kalian___mengabarkan  bahwa ia telah memiliki kekasih dan itu bukan kamu.
Kemudian kini, tepat di hari ini, bahagiamu telah mekar. Bahagiamu adalah priamu yang telah mengembangkan tulip-tulip sempurna. Kamu berharap bahwa inilah cinta sejati yang kamu nanti. Priamu mungkin jodoh yang sempat kamu lewatkan satu tahun yang lalu. Dan tepat genap setahun pertemuan kalian, kamu berharap bahwa priamu adalah jodoh yang tak akan pernah lagi kamu lewatkan.
Kini kalian bersama. Melangkah menapaki angan-angan masa depan bersama. Menyusun rindu-rindu yang beranak pinak. Saling mendekap dan merengkuh harapan yang kamu harap akan menjadi satu. Selamanya.
Hari ini. Sebelas Agustus, genap setahun sudah pertemuan kalian. Dan kamu merasakan bahagia yang selalu kamu syukuri. Kamu harap bahagiamu menjadi bahagianya juga. Kamu selalu memimpikan akan akhir yang bahagia. Entah pada tahun yang keberapa kebersamaan kalian akan utuh menjadi dongeng tidur yang bahagia abadi.
Yang kamu yakin, esok, tepat pada hari kelahiranmu akan hanya ada jutaan bahagia bersama priamu. Kini bulan Agustus bukan saja kamu nanti karena menjadi bulan kelahiranmu. Tapi juga telah menjadi bulan yang kamu tunggu tersebab menjadi awal pertemuan dengan priamu. Terima kasih atas pertemuan yang Kau atur pada tanggal dan bulan yang tepat.
Kamu ragu bahwa priamu akan mengingat perihal hal sepele seperti tanggal dan bulan awal pertemuan kalian. Dan kamu akan membantu priamu untuk mengingatnya melalui bait-bait kata yang kamu susun sedemikian apik mungkin. Bulan Agustus akan selalu tercipta bahagia untukmu dan untuk priamu. Untuk kalian.




@fetihabsari


* Tulisan ini diikutsertakan di dalam lomba #BGANia yang diadakan di sini *

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena