Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 03 Oktober 2013

[Novel; Review] Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck



Judul : Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
Penulis : Hamka
Penerbit : Bulan Bintang
Cetakan : ke-32, 2009
Halaman : 236
ISBN : 979-418-055-6.

Melukiskan suatu kisah cinta murni di antara sepasang remaja, yang dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa, yang patut dijadikan tamsil ibarat. Jalan ceritanya dilatarbelakangi dengan peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh kuat, dalam suatu negeri yang bersuku dan berlembaga, berkaum kerabat, dan berninik mamak.

Alam itu kadang-kadang bisu dan kadang-kadang berkata, kadang-kadang muram dan kadang-kadang gembira rupanya. Semuanya itu bergantung kepada warna teropong hati yang melihatnya.

Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih.

Cerita ini dimulai dari kisah ayah Zainuddin, yang dibuang ke Mengkasar setelah tidak sengaja membunuh pamannya ketika ia berusaha mempertahankan haknya atas harta warisan ibunya. Di Mengkasar, sang ayah menikah dengan wanita Bugis bernama Habibah. Meskipun Habibah berasal dari keluarga bangsawan, tetapi pernikahan mereka tidak disukai oleh banyak orang.

Kemudian, lahirlah Zainuddin. Namun sayang, Habibah meninggal dunia ketika sang putra masih sangat membutuhkan dirinya. Kehilangan istri tercinta membuat Pandekar Sutan tak dapat hidup bahagia. Ia pun menyusul sang istri. Zainudin akhirnya menjadi yatim piatu dan dirawat oleh ibu angkat yang bernama Mak Base.

Ketika beranjak dewasa, Zainuddin memutuskan untuk pergi ke tanah Minang, ke kampung halaman ayahnya untuk menuntut ilmu dan mengenal secara langsung tanah nenek moyangnya. Dengan berat hati Mak Base melepas kepergian Zainudin.

Kehidupan baru Zainuddin di dusun Batipuh, kampung halaman ayahnya sama sekali tidak mudah. Meskipun ia memiliki darah Minang, tetapi ia sama sekali tidak dianggap sebagai orang Minang.

Dan di sinilah Zainuddin bertemu dengan hayati di suatu siang ketika hujan lebat. Hujan siang itu telah mengantarkan mereka pada sebuah gerbang tentang rasa... *tssaahh*

Hayati seorang gadis cantik, kembang desa yang memiliki perangai lemah lembut. Semenjak pertemuan itulah mereka mulai saling berkirim surat. Cinta yang tumbuh diantara keduanya pun semakin hari semakin kuat. Sayangnya, keluarga Hayati meminta Zainuddin untuk meninggalkan Batipuh, atas nama adat yang terhormat. Dan cinta mereka pun terpisah karena sebuah adat. Zainuddin pindah ke Padang Panjang dengan hati hancur.

Hayati yang tak kuasa membendung rasa rindu terhadap Zainuddin, akhirnya mendapat izin untuk menginap di rumah sahabatnya, Khadijah. Rumah Khadijah terletak di Padang Panjang. Dengan cara ini, Hayati berharap dapat bertemu dengan Zainuddin.

Khadijah memiliki kakak laki-laki yang bernama Azis. Melihat kecantikan Hayati, Azis pun jatuh hati pada Hayati. Hingga akhirnya Azis meminang Hayati. Meski sebelumnya Zainuddin pun telah mengirim surat ke keluarga besar Hayati yang isinya adalah ingin meminang Hayati. Namun, niat baiknya itu ditolak oleh keluarga besar Hayati.

Semenjak pernikahan Hayati dengan Azis, Zainuddin jatuh sakit. Ia sekarat dan hampir meninggal. Lalu ia dinasehati oleh sahabatnya yang bernama Muluk. Zainuddin pun bangkit dari keterpurukan. Ia merantau ke Jakarta bersama Muluk. Di Jakarta Zainuddin sukses menjadi penulis yang dikenal sebagai letter "Z". Setelah itu Zainuddin memutuskan pindah ke Surabaya dan mendirikan sebuah penerbitan. Ia semakin sukses dan semakin dikenal.

Pada saat yang sama, Hayati dan Azis pun pindah ke Surabaya. Mereka bertemu dengan Zainuddin yang telah sukses. Mereka bertiga bersahabat dengan cukup baik sejak saat pertemuan di Surabaya. Pernikahan Hayati dan Azis mulai berantakan sampai-sampai mereka berdua harus menumpang di rumah Zainuddin. Hampir dua minggu di rumah Zainuddin, Azis memutuskan untuk meninggalkan Hayati di rumah Zainuddin.

Dan terdengarlah kabar bahwa Azis telah meninggal akibat bunuh diri. Zainuddin selalu menyembunyikan perasaannya bahwa sebenarnya ia masih mencintai perempuannya itu. Begitupula dengan Hayati. Zainuddin menyuruh Hayati kembali ke Batipuh dengan menggunakan Kapal Van der Wijck. Hanya Muluk yang mengantar Hayati hingga menaiki kapal. Dengan langkah berat Hayati naik ke kapal dan menitipkan sebuah surat untuk Zainuddin kepada Muluk.

Menurut saya, kisah antara Zainuddin dan Hayati ini bagai kisah antara Laila dan Majnun. Sebuah cinta yang harus dengan terpaksa terpisah. Dan pada akhirnya mereka pun dapat membuktikan kekuatan dari sebuah cinta itu sendiri.


Overall, kisah ini menarik banget buat kalian para pencari cinta sejati. Untuk para duta hati dan duta cinta... *aseeeekk*




@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena