Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 26 Februari 2017

Tidak Ada Lagi Kata Pulang Untuk Jogja


Di saat aku masih mendekapmu dengan erat, kamu justru perlahan menghilang, menjelma butir-butir halus yang tak mampu lagi kugengam.

Yogyakarta, sebuah kota yang sarat akan sebuah kata 'pulang' dengan sejuta kenangannya. Seperti yang diungkap Joko Pinurbo dalam puisinya, “Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”. Yah, begitulah. Bagi setiap orang yang pernah menetap atau pun sekadar singgah, Jogja memang selalu memiliki kisahnya tersendiri. Jogja akan selalu menampilkan fragmen rindu dan hasrat untuk kembali pulang pada kenangan di setiap sudut kotanya.

Selama tiga tahun lebih saya sudah mengalami segala peristiwa tersebut. Teramat akrab dengan Jogja, rindu, dan pulang. Terlalu lekat pada kenangan di setiap sudut kotanya. Selama kurun waktu tersebut pun saya telah mengalami arti 'pulang' yang sebenar-benarnya pulang pada rumah yang teramat dirindukan serta diyakini.

Jogja, telah menjadi tempat 'pulang' yang paling utama dibanding kota kelahiran saya sendiri. Tetapi kini mungkin tidak lagi. Saya ragu masih akan menggunakan kata ‘pulang’ saat kembali mengunjungi kota yang telah memberi saya sejuta cinta beserta seribu luka. Saya pesimis, bahwa hati saya sudah terlalu hancur untuk bisa membawa kaki kembali menjejak kota yang telah memberi saya beribu angan dan berjuta harapan.

Yang saya sadari ternyata kata ‘pulang’ bagi saya bukan berdasar pada kotanya, tetapi lebih kepada seseorang. Kamu, yang pernah teramat sangat saya yakini sebagai rumah untuk selalu pulang dan menetap selamanya. Kamu, yang pernah teramat sangat  menyadarkan saya arti rindu dan cinta yang sesungguhnya. Dan, kamu, yang pernah tanpa ragu selalu saya pertahankan dan perjuangkan di hadapan siapa pun yang selalu meragukanmu, tanpa pernah mendengar ucapan usil dari mulut orang lain.

Kamu merupakan pusat semesta saya yang telah menanamkan akarnya pada Kota Jogja. Dengan begitu, tanpa ragu saya pun perlahan telah menancapkan akar yang kuat padamu, di kotamu. Kemudian di saat saya telah terlalu dalam dan hampir selesai menancapkannya dengan rapi dan baik, nyatanya saya justru harus mencerabut seluruh akar saya kembali. Sakit. Sesuatu yang telah teramat dalam tertanam, dan kemudian harus dicabut kembali akan meninggalkan bekas luka yang akan selalu menganga dan membekas. Prosesnya pun akan sangat menyakitkan tanpa bisa diobati oleh obat anti rasa sakit sekali pun.

Percayalah, saya telah teramat yakin dan mantap untuk menancapkan akar saya padamu, di kotamu dan menetap selamanya agar saya tak perlu lagi menunggu kata 'pulang' untuk bertemu dan mendekapmu. Saya teramat yakin telah jatuh cinta teramat sangat padamu dan juga kotamu. Saya teramat yakin bahwa perjuangan kita akan bertemu pada sebuah akhir yang bahagia. Saya teramat yakin bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk menjadi rumah dan tempat saya menetap selama-lamanya. Dan saya teramat yakin akan menetap di Kota Jogja dan membangun kehidupan bahagia bersamamu.

Saya teramat yakin sampai pada suatu waktu kamu mengabarkan kabar bahagiamu yang nyatanya bukan bersamaku, tetapi bersama perempuan lain. Di saat aku masih bertahan dan berharap, memohon dan berdoa, menangis dan berharap di setiap detiknya, nyatanya kamu justru tengah mempersiapkan hari bahagiamu bersama perempuan lain. Di saat aku masih selalu memeluk dan merengkuhmu dari jauh, kamu justru telah memindahkan seluruh hatimu pada perempuan lain.

Kamu yang pernah berucap janji, menanamkan harapan. Kita yang pernah membangun angan dan mimpi bersama. Tiga tahun lebih saya percaya pada janji indah yang dulu kamu ungkap. Selama itu pula telah tertanam yakin dan penantian. Kemudian kini saya harus benar-benar mengikhlaskan dan menguburnya dalam-dalam.

Saya adalah manusia yang selalu yakin padamu bagaimana pun kata-kata yang terucap dari mulut saya. Kemudian yang membuat saya perlahan meragukan keyakinan saya adalah justru keyakinanmu sendiri yang mengatakan bahwa kamu tidak yakin atas keyakinan saya pada dirimu. Kamu berucap bahwa saya tidak pernah meyakinimu. Kamu berkata bahwa tidak yakin saya sanggup hidup bersama denganmu. Jadi, siapa sebenarnya yang benar-benar yakin dan tidak? Entahlah.

Nyatanya saya tetap berjalan dan bertahan di sisimu. Menemani dan mendukung setiap keputusan yang kamu ambil meski tanpa memikirkan pendapat saya. Nyatanya saya masih tetap menunggu untuk kamu benar-benar yakin mengikat janji yang lebih sakral bersama di tengah-tengah keluarga besar. Meski saya tidak pernah tahu harus menunggu hingga kapan dan selama apa lagi. Tetapi saya tetap menunggumu. Sampai pada detik ketika kamu benar-benar menghancurkan segala penantian itu.

Percayalah, saya tidak pernah dan tidak ingin menyalahkanmu atas keputusan yang telah kamu ambil saat ini. Memang jelas bukan salahmu. Ini adalah salah saya yang terlalu ceroboh mengendalikan emosi dan perasaan. Dan, sialnya, kamu tidak mengerti dan justru melepas tanpa pernah ingin lagi sekadar menenangkan atau memastikan. Mempertahankan. Percayalah, perempuan hanya ingin sedikit lebih dipertahankan.

Rasa tidak terima atau marah atas keputusanmu yang tidak hanya menghancurkan saya, tetapi juga keluarga besar saya ini memang jelas ada. Hal ini tersebab tidak pernah menyangka bahwa secepat inikah kamu benar-benar melepas dan tidak lagi mempertahan saya di saat saya belum benar-benar mencerabut satu akar saya pun darimu. Dan secepat ini pulalah kamu yakin mengikat janji di hadapan keluarga bersama perempuan lain di saat saya yang telah menunggu bertahun-tahun tidak pernah diberi kejelasan secara pasti terlebih di hadapan keluarga.

Bahkan saat ini, untuk bicara secara langsung atau pun melalui telepon pun kamu sudah enggan. Berapa puluh sudah panggilan tak terjawab saya yang masuk dalam notifikasi ponselmu saat itu? Saya masih ingat dengan jelas atas ucapanmu dulu, meski saya lupa tepatnya secara rinci kata-kata itu, namun intinya "Nyatakanlah secara langsung, putuskan secara langsung pula". Tetapi kenapa kini kamu justru melupakannya. Setiap masalah selalu dibiarkan menggantung, dan setiap penyelesaian hanya berupa pesan teks whatsapp. Hingga tiba keputusan yang seketika menghancurkan ini pun hanya via teks, tanpa pernah lagi mau mengangkat telepon apalagi bicara langsung.

Bagi saya, menemukan orang baru memang mudah, tetapi untuk kemudian memutuskan jatuh cinta terlebih langsung mengikat janji sehidup semati di saat ada hati dan perasaan-perasaan yang belum benar-benar dituntaskan adalah hal yang salah. Tapi itu menurut saya, mungkin tidak menurut kamu.

Kemarin, bersamamu telah mengajarkan saya perihal cinta yan sabar dan rindu yang tabah. Kini, berkatmu lah aku tengah belajar ikhlas dan berbesar hati. Mengikhlaskanmu berbahagia meski bukan denganku.

Maka, saya hanya ingin mengucapkan selamat atas hari bahagiamu yang jatuh tepat pada hari ini. Kamu telah berhasil mengikat janji bersama perempuanmu hari ini. Saya hanya bisa mendoakanmu dari jauh, berharap kebahagiaan selalu mendekapmu bersama perempuanmu. Semoga dilancarkan sampai hari di mana kalian benar-benar diikat dalam ikatan yang halal dan membesarkan anak-anak lucu dan pintar.

Sudahkah pikiran-pikiranmu perihal saya dan luka bahkan penderitaan saya saat ini benar-benar terhapus dalam ingatanmu? Terlebih perjuangan dan penantian yang tak lagi dipertimbangkan sudahkah benar-benar hilang dari pandanganmu? Saya tahu, teramat tahu, bahwa kamu telah bahagia bersama perempuanmu kini. Tak apa. Saya sudah terbiasa merawat luka sendiri.

Mungkin sudah tidak ada lagi kata 'pulang' untuk Jogja bagi saya. Meski saya tetap akan masih mengunjungi Jogja, tetapi tanpa menggunakan kata 'pulang', apalagi menetap. Jogja telah memberi saya cerita serta banyak keluarga. Jogja telah memberi saya banyak kehangatan dan kenangan indah. Dan kini, kadar saya dalam mengunjungi Jogja memang tidak akan lagi serutin kemarin. Tetapi bagaimana pun keadaannya, saya masih akan tetap mengunjungi sahabat-sahabat dan keluarga di Jogja.

Terima kasih Jogja, atas segala rindu dan kenangan. Atas segala kisah dan angkringan.


@fetihabsari

1 komentar:

Neng Mayang mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena