Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 07 November 2016

Mencintai atau Melupakan, Keduanya Memiliki Kepedihan yang Sama

mari mengubur kita yang pernah ada

Dalam kutipannya, Paulo Coelho pernah mengatakan, “if you brave enough to say goodbye, life will reward you with a new hello.” Percaya atau tidak. Menolak atau menerima kalimat tersebut. Nyatanya hidup tetaplah berjalan. Siklus pertemuan dan perpisahan terus berputar.

Aku dan kamu memanglah terampil dalam merangkai kata, menyusun cerita. Tetapi aku terlalu mengenalmu dan aku terlalu tahu diri untuk tidak menuliskan kisah haru, cerita sedih yang hanya akan menjelekkan satu sama lain. Anggap ini hanyalah sebuah upaya terakhir kalinya aku meracau tentang cinta, tentang kita yang pernah ada.

29 September tiga tahun yang lalu, aku dan kamu telah membuat sebuah komitmen atas nama kita. Dua hati yang mulai menjejak cerita baru mulai saling mengeratkan. Angan-angan telah kita bentuk. Mimpi-mimpi telah kita bangun. Waktu terlalu cepat dan mampu merubah segalanya, termasuk membunuh mimpi-mimpi yang hanya akan menjadi sebatas rencana lalu dikubur dalam-dalam. Tahun-tahun lalu baru berencana, tahun ini mari kita menguburnya bersama.

Meski kenangan indah yang telah banyak tercipta bersama terlalu menyesakkan untuk ditinggalkan. Meski angan dan mimpi yang terlalu jauh dibangun nyatanya lebih menyakitkan untuk dikubur. Tetapi itulah yang telah aku dan kamu pilih saat ini. Mengubur dalam-dalam. Bukan lagi menanamnya dalam-dalam.

Aku tidak menyerah pada jarak. Tidak pernah menyerah. Jarak yang ada, telah kupilih sebagai penguat hati terhadap rindu yang selalu beranak pinak. Aku bukan menyerah pada jarak serta resiko-resiko yang telah kupilih selama tiga tahun ini bersamamu. Aku hanya benar-benar merasa sudah saatnya mengucapkan kata cukup.

Ini bukan perkara jarak atau pun waktu. Sebab nyatanya, hal-hal yang telah kita pilih di awal merupakan hal indah yang saling menguatkan dan mampu mengajarkan banyak hal. Aku tidak pernah lelah pada jarak, aku tidak pernah kesal pada rindu, aku tidak pernah membenci waktu. Aku hanya lelah, kesal, dan benci pada diriku sendiri yang akhirnya hanya bisa mengucapkan kata cukup untuk kita.

Jika melepas nyatanya lebih baik daripada tetap mengikat, mungkin memang inilah jalan yang akan kita tuliskan kemudian. Cerita tentang aku dan kamu yang berjalan sendiri-sendiri, bukan lagi tentang kita. Tiga tahun yang telah kita tuliskan bersama nyatanya harus kalah terhapus oleh ombak yang tidak pernah salah. Tidak akan ada lagi cerita tentang kita yang akan terwarisi nanti. Kini, hanya ada cerita tentang aku dan kamu yang berjalan sendiri-sendiri.

Terima kasih telah mengajarkanku kesabaran yang berlebih dan juga arti dari mengikhlaskan. Terima kasih telah memberiku makna dari berjuang dan diperjuangkan. Terima kasih telah mengenalkanku pada cinta yang berisi manis dan juga pahit. Terima kasih atas segala bahagia dan juga luka. Bagaimanapun, kamu pernah menjadi tawa dan juga tangisku.

Aku masih selalu berharap yang terbaik untukmu. Aku masih selalu mendoakan mimpi-mimpimu yang tengah kau kejar. Aku selalu mengamini hidupmu yang penuh dengan kerja keras. Aku selalu menjadikanmu bagian yang tetap baik yang pernah masuk ke dalam hidupku.

Bukan jarak yang mematahkanku. Bukan pula waktu yang menjatuhkanku. Aku hanya takut pada bayangan-bayangan sepi dan kesendirian yang akan menetap ini, hingga nanti. Jika saja kita bisa sedikit saling mengalah, mungkin kita bisa menang dan terus berjalan bersama. Hanya saja, kini tidak pantas lagi ada kata jika atau andai saja.

Sudah tidak ada lagi angan-angan yang layak diangankan. Juga sudah tidak seharusnya lagi aku berharap. Mungkin selama ini aku pun terlalu berharap. Berharap harapan-harapan yang bagiku sederhana, namun terlalu sangat tidak sederhana untukmu. Berharap harapan-harapan yang bagiku wajar dan pantas untuk sebuah hubungan yang normal, tapi tidak pula bagimu. Lagi-lagi tidak ada yang bisa dipaksakan, sebab akhirnya yang terjadi hanyalah saling melukai. 

Mengenalmu, aku terlampau akrab dengan sepi. Bisakah beritahu aku, bagaimana aku harus tertawa dalam sepi. Mengenalmu, aku terhanyut dalam kemandirian yang tak terbatas, hingga akhirnya aku takut jika aku benar-benar sudah tidak membutuhkanmu lagi untuk bergantung pada saatnya nanti. Mengenalmu, aku benar-benar takut jika akhirnya hanya berteman dengan kesendirian.

Bukan kamu yang salah. Bukan pula aku. Bukankah perpisahan sudah cukup menyakitkan tanpa perlu ditambah saling menyalahkan. Aku dan kamu tidak salah. Hanya saja Tuhan belum menuliskan kisah indah ini untuk kita jalani bersama untuk selamanya. Maka, jangan pernah menyalahkan diri sendiri atau apa pun.

Jika masih bisa, sampaikan maafku untuk kedua orangtuamu yang sudah mulai kusayangi, juga untuk keponakan-keponakanmu yang sudah mulai kucintai. Kuharap mereka tidak terlalu kecewa atas aku yang kini seolah merusak foto keluarga kalian di hari pentingmu saat itu. Maaf untuk mereka.

Mencintai ataupun melupakan, keduanya memiliki kepedihan yang sama. Percayalah, Tuhan selalu memiliki skenario indah untuk aku dan kamu yang kini memilih untuk saling melupakan. Meski katamu, sesuatu yang indah tak akan pernah berubah dalam kenanganmu, dalam relung batinku.

Selamat menjalani cerita baru dengan jalan yang telah dipilih. Semoga selalu bahagia.


Can we are saying goodbye?
...
...
...
Yes, we can. 


Jakarta, 07 November 2016.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena