Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Sabtu, 12 November 2016

Aku Hanya Rindu

Aku hanya rindu

Jarak bukan musibah yang layak untuk ditakuti dan dijauhi. Jarak hanyalah sebuah benteng yang mampu membuat kita berdiri lebih kuat dan tegar. Jarak mampu memberi banyak hal perihal bersyukur dan menghargai. Bersyukur atas pertemuan-pertemuan yang singkat. Belajar menghargai waktu saat tengah bersama.

Aku memang ingin menghabiskan waktu secara nyata bersamamu. Sesekali diantar jemput, ditemani saat aku butuh, atau sekadar makan bersama yang diselingi dengan cerita-cerita lucu. Aku pernah menginginkan sebuah kejutan dan dinner romantis, didekap erat saat sedang rindu, digenggam erat tanggannya ketika sedang marah dan kalut. Aku ingin di saat kita ada masalah, kamu berdiri di depan pintu untuk kemudian memelukku. Aku ingin. Aku ingin hal-hal yang tidak mungkin. Aku memang ingin. Pernah ingin. Tetapi saat aku tersadar, yang benar-benar kuinginkan hanyalah untuk bisa selalu bersamamu, meski dalam jarak. Bagaimanapun keadaannya. Dengan apa pun resikonya.

Aku selalu berangan-angan, saat diterjang masalah, kamu sudah ada di  depan pintu rumahku, menggandengku duduk bersama, membicarakan hal-hal dan membunuh masalah. Angan-angan itu pernah ada, pernah melekat, namun aku tidak berhak menuntut semua itu ditengah jarak yang membentang. Yang benar-benar kuinginkan hanyalah tetap bersamamu meski dalam jarak. Membicarakan segala masalah dengan baik dan tenang meski hanya via suara. Bukan sekadar saling diam dalam jarak yang semakin jauh membentang hingga akhirnya memisahkan. Akhirnya yang terjadi adalah masalah yang membunuh hubungan, bukan hubungan yang membunuh masalah.

Romantis bukan hanya tentang cokelat dan sebuket bunga. Setiap orang memiliki sisi manis dan romantisnya masing-masing. Kamu bukanlah sosok romantis, meski kamu ahli dalam merangkai bait cinta. Tetapi bagiku, kamu adalah sosok romantis yang berbeda.

Aku akan selalu ingat saat ketika kamu mengabariku di tengah acara gentingmu, menyisihkan sedikit waktu untuk berbagi cerita dan mendengar segala keluh kesahku dengan sabar meski hanya via suara, menyiapkan makanan disetiap kita camping berdua, selalu menggenggam erat tanganku saat bersama, menghangatkan jemariku dengan memberikan sarung tanganmu saat kita tengah menunggu matahari terbit di sebuah puncak, mencarikanku kedai es krim paling enak meski kadar sukamu pada es krim tidak lebih besar dari pada cokelat, menahan pegal dan keram demi tidak membangunkanku di tengah perjalanan, memijit kakiku meski nyatanya kamulah yang lebih lelah, menuju pondok kopi di ketinggian meski gelap dan lelah telah pekat, hingga mengirim sebuah paket besar yang bisa kupeluk setiap saat ketika rindu. Semua itu, dan masih banyak hal lain yang tampak biasa, namun bagiku kamu adalah manusia paling romantis yang telah berhasil memenangkan hatiku.

Kupikir kita bisa menebas jarak dan membunuh waktu bersama. Membuktikan kepada banyak orang yang meragukan hubungan kita, bahwa kita bisa terus melaju membawanya pada akhir layaknya dalam dongen indah. Nyatanya, lagi-lagi nyata tak seindah ingin. Meski kita sepakat, bahwa kita masih saling mencintai. 

Terima kasih telah mencintaiku dengan penuh kasih. Telah menyayangiku dengan sepenuh hati. Mungkin aku yang selalu merasa kurang dan lupa untuk terus bersyukur telah memilikimu. Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Aku hanya ingin untuk bisa terus bersamamu. Meski dalam jarak.

Aku tidak meminta apa-apa darimu. Aku tidak mengangankan hal-hal yang tidak mungkin. Aku tidak lagi mengingkan apa-apa. Yang benar-benar kuinginkan hanyalah bisa tetap bersamamu. 

Malam ini aku hanya rindu. Teramat sangat. Hingga sesak kembali memenuhi dada. Aku rindu. Sangat rindu. Apa masih boleh?

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena