Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Rabu, 21 September 2016

Pulang dan Mimbar Pertunjukan Sastra Nusantara



Pulang. Bukankah setiap makhluk hidup selalu butuh pulang? Sejauh apa pun kamu pergi, pada akhirnya kamu akan kembali pulang, ke tempat paling nyaman dan dirindukan  yang kamu anggap ‘rumah’. 

Mulanya memang berkeinginan untuk ikut trip bersama Backpacker Jakarta untuk pendakian Gunung Merapi, setelahnya baru mampir ‘pulang’ ke Jogja. Berhubung terlalu lama berfikir untuk mendaftar, ternyata seat peserta untuk pendakian Merapi pun sudah full. Lagipula cuaca di Jogja sedang hujan terus, ada baiknya memang tidak melakukan pendakian. Artinya, kali ini saya bisa menyaksikan langsung sebuah acara yang dibuat olehnya. 

Sudah tahu dari berbulan lalu bahwa akan digelar Mimbar Pertunjukan Sastra Nusantara dan tidak ada bayangan untuk bisa menonton langsung. Seperti acara-acara lain di tahun-tahun sebelumnya pun belum pernah bisa untuk hadir dan menyaksikan langssung acara-acara besar yang dibuat olehnya. Selain keterbatasan waktu dan pengaturan jadwal cuti yang harus dipikir dulu, saya juga tidak ingin menjadi perusuh dan buntut yang mungkin hanya akan makin menyusahkan yang lagi ribet itu. Tapi ternyata tidak kok. Saya anaknya anteng dan cukup tahu diri meski ada bete-betenya ditinggal-tinggal sendiri selama acara. Untung banyak temannya. 

Sabtu pagi akhirnya tiba di Jogja. Memang sudah seharusnya pulang setelah terakhir awal tahun mengunjungi Jogja. Dan seterusnya hanya bertemu di kotaku dan di kota-kota lain. Perjalanan ke Jogja memang tidak selalu untuk jalan-jalan, lebih kepada ‘pulang’. Maka sering banyak komenan di path yang menganggap kerjaan saya jalan-jalan terus ke Jogja. Hueee…

Sabtu pagi yang setelah sarapan langsung ditinggal membuat soal dan ngajar itu diisi dengan tidur lumayan panjang karena semalaman hanya tidur-tidur bebek di kereta. Siangnya sepulang ngajar pastinya langsung ke Dinas Kebudayaan Yogyakarta untuk melihat sejauh mana progres perisapan acara Mimbar Pertunjukan Sastra Nusantara. Mulanya hanya diam memperhatikan semua, akhirnya tenaga saya dibutuhkan juga meski hanya untuk membuat bangau-bangau besar yang digantung sebagai penghias panggung. Sampai sore, sampai malam, sampai acara selesai dan beberes. Sekitar pukul 12 malam sepertinya baru pulang.

Panggung Mimbar Pertunjukan Sastra Nusantara

Hari minggu, yang seharusnya menjadi hari istirahat untuk yang habis mengadakan acara itu memulihkan kondisi tapi malah dijadiin tukang antar. Setelah sarapan langsung ke Upside Down World Jogja yang lagi ngehits itu. Datang pagi pas tempatnya baru buka dipikir akan sepi, ternyata tetap ramai yang datang. Rp 80.000 per orang dengan konsep tempat yang tampak sederhana. Tampak seperti rumah pada umumnya yang hanya didesign berbeda ini hanya dijadikan spot wisata untuk berfoto. Lebih lengkapnya bisa dibuka di sini.



Setelahnya keliling Progo dan Bringharjo mencari titipan Ibu, perintilan perabot yang terbuat dari seng. Sebenarnya nggak butuh-butuh banget, tapi ya namanya juga perempuan, selalu ada keinginan untuk memiliki yang unik dan sulit dicari. Lalu ke JBS menunggu rombongan yang mau jenguk bayi. Janjian jam duaan, baru jalan jam empat sore. Biasalah jamnya orang Indonesia.

Rak barunya JBS

Jenguk dedek bayinya kak Risti

Niatnya ingin pulang cepat saat jenguk bayi karena masih banyak yang mau didatangi, tetapi hujan nggak bersahabat. Setelah magrib baru reda. Pukul 21.00 ada jadwal siaran di RRI, jadi harus banget kejar-kejaran sama waktu. Sudah biasa banget kejar-kejaran waktu ngikutin jadwalnya orang sibuk satu ini kalau lagi di Jogja. Dipikir mau langsung pulang karena waktu yang mepet, ternyata disempatkan mampir ke tempat requestan. Secret Garden Coffe and Chocolate. Lengkapnya bisa baca di sini.



Dari Secret Garden langsunglah pulang untuk mandi dan beberes sebelum melanjutkan ke Radio RRI. Ternyata siaran dimulai pukul 21.30. Tiba di Radio RRI ternyata ramai yang mau siaran malam itu. Siaran kali ini bukan menjadi penyiar. Mas ini penyair bukan penyiar. Gitu. Iya, gitu.

Siaran di Radio RRI hanya menjadi pengisi acara di acara Puisi Pro. Dan saya baru tahu kalau mas ini memang aktif di Puisi Pro pada jamannya dulu. Obrolan pastinya seputar penyair dan karya serta acara-acara besar. Ketika diperkenalkan, saya disebut sebagai penyair dari Jakarta. Penyair dari mana? Bisa-bisanya disebut gitu coba. Dan saya merasa apalah banget di situ. Sempat membacakan puisi yang dikirim pembaca juga malam itu. Dan ini sebuah jebakan. Entah, sepertinya tidak memuaskan pembacaan saya itu. Iya, saya kan bukan penyair. Hanya remahan biskuit yang langsung terbang ketiup angin.

Dijebak baca puisi.
Dibalik ini ada yang hore-hore girang

Besoknya ada yang bilang,
Harusnya kemarin siaran kita foto berdua ya
((Harusnya)) lagi. Cape deh

Senin pagi ternyata ada jadwal kuliah pengganti. Dari pada ditinggal dan hanya tidur lagi di rumah, mending ikut ke kampus. Setelah malamnya begadang untuk menyelesaikan makalah yang harus dikumpul senin pagi ini, ternyata dosennya absen. Hhhmmm banget.

Serasa takdir yang kebetulan banget memang saat lagi di FIB UGM, ada line masuk. Dari Tiwi anak KITAtumblogger. Dan tujuan dia ngeline ternyata memang ada yang mau diobrolin. Dan kebetulan yang kebetulan banget bisa ngobrol langsung dan selfie berdua yang akhirnya jadi bahan pameran di grup KITA Jateng. Sukses ya eventnya, Tiw.



Masih khusyuk duduk di bangku cokelat FIB UGM menemani mas yang sedang menyelesaikan berkas untuk residensi yang harus dikirim hari itu juga. Seusai dzuhur masih belum kelar dan hawanya makin panas. Memutuskan pindah tempat dan akhirnya ke Tempo Gelato. Akhirnya. Kisah di  Tempo Gelato bisa dibaca di sini loh.

Ada yang lebih khusyuk pacaran sama laptop

Loving you like a ice cream

Setelah ngeskrim kepingin bakso. Iciplah bakso tengkleng yang ternyata saya nggak doyan ngunyah-ngunyah yang namanya tengkleng. Untung pesannya cuma satu. Saya habisin baksonya, mas ngunyah-ngunyah tengklengnya.

Sebelum pulang untuk packing, mampir cari sedikit oleh-oleh. Sedikit saja. Saya memang orang yang paling malas membawa oleh-oleh yang heboh dan menyusahkan diri sendiri dalam membawanya. Lagipula, liburan ya liburan, bukan lantas menjadi wadah untuk ditagih oleh-oleh.  Jadi harap maklum ya.

Bicara oleh-oleh, saya juga dapat oleh-oleh dari yang habis mengunjungi Manado dan nyelam-nyelam di Bunaken. Banyak. Gantungan kuncinya. Tulisan di kaosnya ngeledek. Tapi suka. Boneka kecilnya nggak pelukable kayak panda yang dikirim bulan lalu, tapi nanti tetap kupelukin terus kok. Terima kasih.

Oleh-oleh dari Manado

Sekitar pukul 16.30 diantar ke stasiun untuk pulang ke Jakarta. Detik-detik yang paaling dibenci dan menyesakkan untuk menahan segala yang mau memberontak. Kereta pukul 18.08. Biasanya diantar ke stasiunnya 30 menit sebelum keberangkatan kereta, karena sistem baru PT KAI yang harus cetak tiket -12 jam sebelum keberangkatan, akhirnya diantar lebih awal banget deh.

Sebenarnya kalau ada ngambek-ngambek di akhir pertemuan itu semacam pelampiasan sesak yang terpendam. Bukan maunya ngambek-ngambek nggak jelas. Ngambek diantar lebih cepat pun sebenarnya hanya karena masih ingin memanfaatkan waktu bersama meski hanya beberapa menit. Gitu. Baiknya lebih memilih diam untuk menahan sesuatu yang hendak bocor. Tapi yaah tetap aja deh.



♡fetihabsari♡

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena