Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Sabtu, 30 April 2016

Travelmate; Bandung


Di awal April, melalui obrolan-obrolan yang nggak penting, muncullah gagasan untuk sebuah pertemuan, menebus rindu kembali. Di Kota Bandung. Awalnya saya yang ingin mengunjungi kotanya sekaligus menemui beberapa teman yang memang sedang menghadiri acara yang sebenarnya ingin saya hadiri juga, tetapi akhirnya memutuskan Kota Bandung sebagai alternatif. Inginnya juga sih ikut ke Jember dalam rangka roadshow buku kumpulan puisi terbarunya, tetapi mengingat jarak yang jauh dan bukan di hari libur, dengan berat hati saya berkata “tidak ikut.”.

Kami bertemu di Bandung pada sabtu malam dan akan menghabiskan waktu hingga senin sore. Untuk menghemat biaya dan waktu, sebelumnya saya sudah mengontak penyewaan motor di Bandung. Setelah mencari-cari link yang kira-kira cukup baik dan murah, akhirnya saya mengontak Riftrans Motor.

Menurut kesepakatan, saya memilih motor manual dengan harga sewa Rp 60.000 per hari dengan biaya antar dan jemput Rp 30.000. Sabtu siang saat di Gambir, saya kembali mengontak via whatsapp bahwa motor yang saya sewa diminta untuk tiba di Stasiun Bandung pukul 18.30. Tidak ada respon dan balasan apa pun. Saya pikir baik-baik saja meski tanpa dibalas yang penting saya sudah berkali-kali konfirmasi. Saat tiba di stasiun Bandung sekitar pukul 18.30, saya menelpon sewa motor itu dan di situ pertama kali saya kesal dan memiliki firasat buruk atas pelayanannya.

“Oh, iya, motornya sedang disiapkan. Kira-kira 20 menit lagi sampai sana,” dengan entengnya pihak penyewaan menjawab telepon saya.

Saat motornya tiba dan kami telah dibuat menunggu lama ternyata motor yang datang dan harga yang saya terima tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

“Motor manualnya lagi nggak ada, mbak, adanya yang matic ini dengan total harga sewa untuk dua hari Rp 200.000 sudah plus antar jemput,” kata kurir yang mengantar motor.

Saya sempat kesal karena harga motor matic yang ditawarkan pun seharusnya Rp 80.000 per hari yang artinya selama dua hari plus antar jemput tidak sampai Rp 200.000. Berhubung cuaca gerimis dan saya sudah lelah menunggu dari tadi, tidak apalah, pikir saya. Saya membayar dan memberikan dua kartu identitas sebagai jaminan. Kunci motor pun berpindah ke tangan saya.

Setiba di penginapan saya baru sadar bahwa motor yang disewakan kepada saya sungguh tidak layak pakai, menurut saya. Kaca spion yang hanya sebelah kanan, speedometer yang tidak jalan, dua helm yang rusak dan kotor, dan dua jas hujan poncho tipis yang sudah sobek-sobek tak layak pakai. Sudah terlanjur, nikmati saja.
Malam itu kami makan malam di ‘Makan Doloe’. Sebuah tempat makan model food street ini menawarkan berbagai menu makanan berat, minuman, dan camilan. Mencicip mie yamin gaul di tepat ini rasanya cukup pas. Enaak dan kenyang.

Masjid Agung di Kawasan Alun-Alun Bandung

Keesokan harinya kami mengunjungi Tangkuban Perahu. Untuk mencapai kawasan wisata ini, dari Kota Bandung kita akan melewati kawasan Lembang yang juga memiliki beragam wisata yang akhir-akhir ini lagi ngehits di jejaring sosial. Bisa direncanakan juga untuk mampir diantaranya ada Farmhouse, De Ranch, juga Boscha.

Setelah melalui kawasan Lembang, terus ikuti jalan menuju Subang. Selama perjalanan kita akan disuguhi panorama hutan-hutan pinus yang masih asri dengan hembusan angin yang sejuk. Kita juga bisa mampir di kawasan hutan-hutan pinus ini untuk berfoto, memasang hammock, atau sekedar istirahat sejenak.

Dari kawasan hutan pinus sudah tidak jauh lagi untuk sampai ke Tangkuban Perahu. Kita akan menemui sebuah gerbang masuk pembelian tiket sebesar Rp 30.000 per orang dan Rp 7.000 untuk satu kendaraan bermotor.

Tangkuban Perahu saat kabut mulai menguap

Memasuki kawasan Tangkuban Perahu ini akan banyak para penjual yang menjajakan masker,  sebab bau belerang akan tercium kuat di daerah ini, terlebih jika sedang hujan. Saat saya tiba di kawasan wisata ini sekitar pukul 11.00 kabut sedang tebal-tebalnya sebab langit sedikit gerimis. Suhu dingin di sekitarnya masih terbilang normal dan tidak ekstrim.

Kondisi berkabut menyebabkan kawah yang dituju tidak dapat terlihat, jadi hanya bisa menikmati kondisi sekitar yang tidak kalah indahnya. Akhirnya memilih untuk menelusuri jejak sekitar. Naik-naik hingga ke atas. Di sisi bagian kanan, kita akan menemukan sebuah petunjuk arah Kawah Upas, Kawah Baru, Air Cikahuripan, dan Foto Pre Wedding.



Jalannya berbatu dan menyusuri hutan. Kabut masih tebal dan angin menerbangkan bau belerang yang semakin menusuk indra penciuman membuat suasana yang sepi menjadi terasa seperti mistis. Sepertinya area jalan berbatu yang diapit Hutan dan kawah ini menjadi tempat yang biasa digunakan untuk foto pre wedding. Sayang, kabut hampir menenggelamkan panorama yang seharusnya ditangkap.

Tempat Pre Wedding menurut petunjuk arah

Jika kita terus berjaalan menuyusuri jalannya, tiba di persimpangan akan kita temui jalan ke kiri menuju Kawah Upas yang saat itu ditutup dan jalan ke kanan menuju Air Keramat Cikahuripan. Menuju Air Keramat masih harus menempuh jarak 250 meter dengan trek yang naik dan diapit oleh hutan.

Setibanya di kawasan air keramat, jangan kaget jika yang kalian temukan malah sebuah warung kopi. Ya itu memang tempatnya. Ada sebuah goa dan mata air yang katanya keramat yang agak tertutup oleh terpal dan warung tersebut. Untuk masuk ke Goa dikenakan Rp 1.000 per orang. Air keramatnya sendiri sudah ditampung di sebuah bilik mirip seperti toilet yang terletak di depan goa.

Dulu, di tempat ini ada sebuah curug bernama Cikahuripan. Curug ini menjadi tempat favorit Dayang Sumbi untuk mandi. Namun, kini curug tersebut sudah tidak ada, sepertinya akibat longsor yang pernah terjadi. Mata airnya pun kini yang dijadikan air keramat.

Saya tidak tertarik untuk memasuki goanya, karena selama saya duduk untuk istirahat dan mengamati sekitar, tampaknya goa ini dijadikan tempat mistik oleh orang-orang yang datang dengan niat tertentu. Terlihat ada beberapa wanita tua yang tampak kental nilai spiritualnya. Ada juga beberapa lelaki yang masuk ke dalam goa secara bergantian dengan membawa segelas kopi hitam dengan mengucap sesuatu di pintu masuk goa.

Selesai menyesapi kabut di kawasan legenda ini, akhirnya cuaca pun berbaik hati. Langit mulai terang dan kabut mulai menguap sehingga akan kita temui panorama kawah yang dikelilingi berbukit-bukit dengan gradasi yang manis.





Suhu dingin dan treking yang lumayan membuat perut cepat lapar memang. Jangan khawatir, banyak warung-warung dan tukang jajanan di sekitar kawasan wisata ini. Di tempat ini juga ada sebuah kawasan pasar oleh-oleh. Tersedia mulai dari kaos, pajangan,  hingga tas.

Malamnya menghabiskan makan malam di Paskal Food Market. Tempat outdoor yang menjajakan beragam menu dengan design yang cukup manis deengan hiasan lampu-lamu unik dilengkapi dengan live music. Di sini kita bisa menikmati aneka macam makanan bersama teman, keluarga, dan pasangan dengan nyaman. Paskal Food Market ini menjadi salah satu tempat kuliner yang wajib dikunjungi saat di Bandung loh.


Di hari senin sebelum kembali ke Jakarta, saatnya mengunjungi museum. Yang pertama dikunjungi adalah Museum Geologi. Museum ini didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Setelah mengalami renovasi yang dibiayai oleg Japan International Cooperation Agency, Museum Geologi ini dibuka kembali dan diresmikan oleh Megawati Soekarnoputri pada 23 Agustus 2000.  Museum Geologi terbagi menjadi beberapa ruang pamer yang menempati lantai 1 dan 2. Di dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral.



Fosil T Rex


Selesai mengeksplore Museum Geologi, kami beranjak ke Museum Asia Afrika yang ternyata tutup. Perlu diketahui, Museum Asia Afrika tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.

Museum Asia Afrika terletak di antara Gedung Merdeka dan Jalan Braga. Kita bisa sekedar bersantai di areal yang mungkin bisa disebut sebuah taman kecil di sisi kanan Gedung Merdeka atau juga bisa menyusuri jalan Braga dan menikmati semilir angin di deretan bangku-bangku yang terpancang di sekitaran.

Di depan Museum Asia Afrika

Di antara kemacetan Jalan Braga

Tidak jauh dari daerah situ, kita bisa mengunjungi Taman Music Epicentrum dan Taman Tematik. Bandung saat ini memang dikenal memiliki banyak taman yang unik dan juga menarik. Beruntungnya, taman-taman di Kota Bandung ini juga terawat dengan sangat baik.

Waktu menunjukkan pukul 15.10, saatnya untuk menyelesaikan perjalanan di Kota Bandung. Tiba di Stasiun Bandung sekitar pukul 15.30 sesuai dengan perjanjian waktu pengembalian motor sebab Kereta kami ke Jakarta akan berangkat pukul 16.15. 

Lagi-lagi saya dibuat kesal dan semakin mencap jelek jasa penyewaan motor ini. Saya menelepon kurir yang sabtu lalu mengantar motor, sebab katanya nanti saat penjemputan bisa langsung hubungi dia saja, namun ternyata si kurir malah sedang ada di luar kota. Akhirnya saya menghubungi kantor dan dari pihak kantor pun tidak ada komunikasi dan kerja saamanya. Dengan entengnya dia menjawab bahwa kurirnya baru berangkat ke stasiun.

Saat itu saya dimintai uang over time. Katanya, saya kena over time. Jelas saya tegaskan bahwa saya tidak mau sebab sesuai perjanjian awal saat saya sebutkan waktu dan jamnya tidak ada kata-kata overtime. Jika jasa pelayanan dan kualitas kendaraan bagus mungkin bisa saja saya memberi tips tambahan, tetapi saya sudah sangat amat terlanjur kecewa.

Saya sangat amat tidak merekomendasikan jasa penyewaan motor ini. Selain respon yang susah bahkan tidak ada komunikasi dan konfirmasi lebih lanjut, pelayanan yang terlambat dan saangat buruk, juga kualitas kendaraan yang sudah tidak layak pakai lagi. Semoga ada perbaikan pelayanan dan kualitas dari jasa penyewaan ini. Sebab akan sangat merugikan dan membuat kapok para pelanggak jika selalu sepperti itu. Jika ingin membuat usaha, buatlah yang serius dengan mempertahankan kualitas. Bukan baru sekali ini saya menyewa motor saat traveling meengunjungi kota lain, dan baru kali ini saya mendapat pengalaman buruk saat menyewa motor seperti ini.

Kami tiba di Stasiun Jatinegara pukul 19.20. Sengaja memang ada yang tidak langsung kembali ke kotanya, sebab akan mengantar saya pulang terlebih dahulu. Sebenarnya ingin mampir ke rumah, namun sepertinya waktu tidak cukup. Dari stasiun Jatinegara kami naik commuter line menuju Stasiun Senen.

S : Sudah. Kemana lagi kita?
F : Sumbawa, yuk!
S : Ya, kira-kira dulu lah.
F : Oke, Baanyuwangi aja dulu.
S : Bener nggak mau ikut ke Jember besok?
F : Hhhhmmmm...

Kemudian punggungnya mulai tenggelam di antara para penumpang kereta jurusan Yogyakarta yang mulai berjejal di antrian pintu masuk. Saya hanya bisa menatapi punggung itu menjauh dan perlahan tenggelam menghilang.




@fetihabsari







0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena