Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 05 Januari 2016

Pulang

Setelah Libur Natal dan Tahun Baru kemarin dihabiskan ke Yogya, Dieng, dan Semarang selama 9 hari, libur Natal dan Tahun Baru kali ini sebenarnya nggak ada rencana ambil cuti karena memang nggak mau ke mana-mana. Hanya ada rencana-rencana kecil untuk mengisi liburan di rumah, karena ada yang sudah janji mau menghabiskan libur Natal dan Tahun Baru di Jakarta. Tapi begitulah, rencana manusia tidak selalu tepat. Yang berjanji menghabiskan liburan sampai Tahun Baru ternyata hanya bisa sampai libur Natal usai. Setelah 17 Desember ke Jakarta lalu kemudian 18 Desembernya ke Bangka, 25 Desember kembali lagi di Jakarta dan hanya sampai tanggal 27 Desember.

"Aku di Jakarta sampai 27 Desember malam aja ya? Harus balik ke Jogja."

Kemudian ada yang diam saja, sedangkan telepon masih tersambung. Ya, saya. Siapa lagi? Dia? Nggak mungkin kan. Wong yang tukang ngambek itu saya.

"Ngambek deh... tahun baru nanti ke Jogja aja ya," sambungnya lagi.
"Tiketnya udah pada habis."
"Masih. Coba cari dulu."

Searching tiket dan kemudian masih ada 1 tiket Taksaka Malam, Gambir-Yogyakarta 31 Desember 2015, pukul 20.45.

"Iya, masih. Tinggal satu tapi itu pun dari Gambir. Tanggal 31 malam."
"Yasudah, pesan!"
"Beneraan? Masa aku tahun baruannya di kereta." :(
"Nanti kan kutemenin lewat telpon."

Beberapa menit kemudian kode pembayaran diterima. Dan beberapa menit kemudian kode booking pun sudah masuk ke email.

"Fix ya, sudah kutransfer pembayarannya."

Begitulah awal mula terjadinya perjalanan pulang ke Yogya. Pulang. Ya, saya menyebutnya sebagai 'pulang', bukan sebuah liburan. Pulang bukan hanya perihal kembali ke sebuah rumah yang berbentuk dengan atap dan daun jendela, kan?

Setelah fix berangkat ke Yogya tanggal 31 malam, kemudian mencari tiket kembali ke Jakarta. Full habis ludes untuk tanggal 3 Januari 2016. Akhirnya, memutuskan untuk pulang tanggal 4 Januari 2016 sore. Itu pun dengan tiket yang hanya tersisa beberapa bangku saja. Ckckck orang Indonesia ini pada kaya ya ternyata, apalagi kalau lagi musim liburan seperti ini.

Untuk menghindari penutupan jalan yang biasanya dilakukan setiap malam tahun baru, akhirnya saya memutuskan berangkat ke Gambir pukul 16.30 diantar babang gojek. Perjalanan lancar tanpa macet apalagi penutupan jalan. Sampai Gambir pukul 17.30. Menunggulah di Gambir sampai pukul 20.45. Kereta on time berangkat dari Gambir pukul 20.45, tetapi tiba di Yogya telat hingga 40 menit. Saking padatnya arus pemberangkatan kereta api di liburan panjang yang melebihi lebaran ini.

Tiba di stasiun Tugu Yogyakarta pukul 05.00.

"Aku sudah sampai. Di mana?"
"Aku juga sudah."
"Tapi nggak bisa kelur lewat Timur lagi. Semua keluar lewat Barat."

Setelah bingung dan bolak-balik bertanya akhirnya menyerah untuk keluar lewat pintu Timur.

"Di pintu Barat aja deh. Aku sudah di luar ya."
"Tuh kan ngeyel dibilangin. Yaudah tunggu ya aku puter balik dulu ke pintu Barat."

Setelah kasus cari-carian di pintu keluar yang salah di stasiun Lempuyangan beberapa waktu lalu, hal bolak-balik ke pintu keluar pun kembali terulang. Kini di Stasiun Tugu. Sejak kapan pula berubah begini? Oktober lalu ke Yogya sepertinya masih kayak dulu deh...

Sampai rumah pukul 06.00. Mandi dan beberes. Pukul 08.00 janjian sama Tante Lina (dari Gresik) dan kak Rara di depan Mandala Krida untuk sarapan cantiks. Hujan deras menemani pertemuan kami pagi itu. Setelah sarapan, ngobrol, selfie, dan menunggu hujan reda, kami memutuskan untuk ke JBS. Belanja buku. Hanya bisa menyempatkan untuk belanja buku, nggak bisa mengikuti acara-acaranya. :(



ini tante Lina yang hobinya
gendong-gendong petiih kalau lagi ketemu

Di JBS


Sekitar pukul 10.30 harus kembali pulang. Ada yang mau sholat jum'at dan juga rencana kemping di Gunung Kidul. Berangkat ke Gunung Kidul sekitar pukul 13.30 dan tiba di Pantai Watu Kodok pukul 16.00 setelah sebelumnya makan dulu.

Tiba di Pantai Watu Kodok, naik ke bukit dan menunggu sunset. Mencari tempat teduh di pinggir bukit, memanjakan diri melalui sepoi angin sore, menikmati birunya laut lepas dan alunan debur ombak. Setelahnya, kami mencari lokasi yang asik untuk mendirikan tenda. Setelah berjalan menyusuri pantai dan berusaha menyebrang ke pantai sebelah dengan melewati karang-karang tinggi dan tajam, akhirnya kembali juga pada posisi awal. Di pantai Watu Kodok dekat dengan bukit.

Tenda berdiri tepat saat senja telah tenggelam. Pakai adegan buru-buru mendirikan tenda segala sebelum senja tenggelam. Tapi ya, senja lebih dulu menang.

Badan yang lengket meminta mandi. Mandi di tempat pemandian umum yang tersedia di area pantai dengan membayar Rp 3.000.

Tidak terlalu bersih memang, tapi ya begitulah adanya. Yang penting ada air bersih untuk membasuh badan selain air laut. Selesai mandi langsung makan malam. Ada yang sudah memasak saat ditinggal mandi tadi. Alhamdulillah ya...

Pantai Drini

Menuju senja


Ini kolam pribadi untuk main air




Makan malam


sisa-sisa senja



Saat malam tiba, air laut makin meninggi, debur ombak pun semakin pecah terdengar. Menikmati jutaan taburan bintang di langit luas. Akhirnya bisa lihat bintang sebanyak itu lagi setelah lama nggak lihat karena nggak naik-naik gunung lagi. Sayang nggak bisa difoto langitnya. Bintangnya nggak kelihatan kalau difoto. Menikmatinya secara langsung saja sudah bahagia. Di Jakarta jangan harap bisa dapat langit seperti itu.

Debur ombak pecah beradu. Angin semakin bebas menderu. Jutaan bintang menyatu. Membebaskan dahaga rindu. Meski tahu, semua hanyalah sesaat. Sesaat membebaskan rindu untuk kemudian luruh menjadi jutaan rindu yang kadarnya lebih berkali lipat dari sebelumnya.

Bukankah perpisahan setelah pertemuan hanya akan menambah kadar rindumu berkali-kali lipat?

Terbangun sekitar pukul 05.00. Naik ke bukit dan menikmati sunrise yang malu-malu bersembunyi di bukit seberang. Tampaknya jika kemah di Bukit Kosakora memang akan bisa melihat sunrise yang sempurna. Meski begitu, kami menikmatinya. Memperhatikan para nelayan di Pantai Drini yang bergegas melajukan kapal-kapalnya ke tengah lautan diiringi langit yang indah dan angin subuh yang teduh.


Kapal nelayan mulai berlayar


Selesai menikmati sunrise, kami turun dan bermain air di tepian pantai yang lebih ramah. Tidak ada yang lain yang bermain air di situ. Jadi seperti pantai milik pribadi deh. Lebih eksklusif dibanding menginap di hotel. Harus ekstra berhati-hati ya memilih tempat untuk berenang dan bermain air di area pantai Selatan dengan ombak yang tidak ramah ini. Airnya tidak terlalu asin memang. Hanya sebentar bermain air, tapi saya sudah menggigil. Akhirnya memutuskan untuk mandi saja. Selesai mandi sudah ada yang selesai masak untuk sarapan. Alhamdulillah ya... kalau begitu nanti di 'rumah kita', mas saja yang bagian memasak yaa. Eh, apa? Nggak, kok, nggak gitu. :p


Tendanya lupa difoto yang bagus


Setelah sarapan pagi dan menikmati suasana pantai pagi hari yang teduh dan nyaman, rasanya nggak mau pulang. Anak-anak penduduk sekitar pantai mulai berdatangan bermain air di tempat kami tadi pagi bermain air. Rasanya ingin ikut mereka dan bermain air lagi.

Sekitar pukul 08.00 matahari sudah meninggi dan cuaca pantai sudah sangat menyengat panasnya. Kami memutuskan untuk melipat tenda dan berberes untuk melanjutkan ke lokasi berikutnya. Bukit Kosakora.

Kami membayar parkir di Pantai Watu Kodok hanya Rp 10.000 meski penjaga parkirnya hanya meminta Rp 8.000. Untuk biaya parkir dan kebersihan, katanya. Terbilang sangat murah. Kemping hanya dikenakan biaya parkir kendaraan.

Memilih pantai Watu Kodok sebagai tempat kemping karena tempatnya yang masih sepi dan tidak seramai pantai Baron dan Indrayanti yang sudah sangat mainstream. Jangankan mau kemping, untuk mencari tempat duduk saja mungkin sudah susah di sana. Penuh sesak manusia apalagi saat liburan seperti ini.

Kami melaju ke arah pantai Drini dan menemukan tempat parkir yang lebih dekat untuk menuju ke Bukit Kosakora. Cuaca sangat panas. Jangan lupa menyiapkan perbekalan minum yang memadai. Banyak juga kok warung-warung kecil yang menyediakan minuman dingin. Sangat membantu.

Dari parkiran, kita harus berjalan melewati jalan setapak yang bisa dibilang tidak dekat jaraknya. Setelah melalui jalan setapak, tibalah kami di Pantai Ngrumput. Ternyata di Pantai ini lebih banyak yang kemping. Tetapi sepertinya masih tetap asik di Pantai Watu Kodok deh. Masih terasa lebih eksklusif.

Dari Pantai Ngrumput, harus menaiki bukit untuk menuju ke Puncak Kosakora. Dikenakan biaya Rp 2.000 per orang, dan Rp 20.000 perorang jika ingin kemping di atas. Mahalnya untuk kemping di atas saja.

Tiba di puncak bukit, keringat dan lelahnya terbayar kok dengan birunya lautan yang menyatu dengan birunya langit. Jejeran tebing dan bukit hijau. Jejeran pantai dengan pasir putihnya. Indonesia itu memang indah, kok. Jadi, masih betah tidur di rumah atau ngemall dibanding menjelajahinya?

Pantai Ngrumput

Naik-naik ke puncak bukit


Dari puncak Kosakora



Inilah ulah para mereka yang kebelet eksis
tapi nggak paham apa itu arti menjaga lingkungan



Setelah dirasa cukup istirahat dan menikmati puncak, kami turun dan kembali ke parkiran. Berencana untuk pulang tetapi mampir sebentar ke bukit (lupa namanya) dan sebuah kawasan Geopark Gunungsewu yang sedang dibangun. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan serangan ulat pohon jati yang banyak bergelantungan di sepanjang jalan Gunung Kidul. Pantas banyak kupu-kupu, ternyata ulatnya sungguh dahsyat bergelantungan hingga ke jalan-jalan.




Tiba di rumah sekitar pukul 12.30 dan langsung beberes tas untuk check in di penginapan. Saya memilih De Pendopo Homestay untuk 2 malam. Dapat dari traveloka dengan menggunakan kupon diskon. Lumayanlah. Saya memilih De Pendopo Homestay karena tertarik dengan foto dan ulasan yang ada di Traveloka. Dan ternyata memang benar. Tidak lama setelah transfer pembayaran penginapan, owner dari homestay mengabari bahwa sudah menerima reservasi saya via Traveloka dan pada tanggal 2 Januari, owner kembali menanyakan saya akan check in jam berapa dan butuh perunjuk jalan atau tidak hingga menanyakan kendaraan apa yang digunakan agar lebih mudah. Selama saya menggunakan Traveloka belum pernah dapat owner yang perhatian seperti ini.

Rencana setelah check in ingin melanjutkan perjalanan dan menghabiskan waktu bersama. Ke acara penutupan #TahunBarudiJBS untuk nagih kado buku dari Klub Buku Yogya dan ngumpul bareng yang lainnya. Tetapi ya itu tadi, rencana manusia memang tidak selalu tepat. Yang diapelin malah tumbang. Demam dan muntah-muntah setibanya di rumah setelah perjalanan kemping dari Gunung Kidul. Sepertinya efek cuaca panas menyengat dan ditambah minum es pinggir jalan. Bandel sih. Akhirnya malam minggu nungguin yang lagi sakit.

Keesokan paginya ada yang sudah lumayan segar setelah demam semalam, katanya. Mengajak main ke tempat kakak di Sentolo. Tidak terlalu jauh ternyata. Cukup satu jam. Lumayanlah ya. Yogya nggak macet kok. Walaupun macet pun tidak semacet di Jakarta.

Pulang dari Sentolo sekitar pukul 15.00 setelah ngobrol dan makan siang. Perjalanan pulang mampir foto di jembatan sungai Progo dan lanjut ke Monumen Memorial Soeharto.

Jembatan Progo





Sekitar pukul 17.00 tiba di Taman Lampion Monjali. Per orang dikenakan biaya Rp 20.000. Ada museum monjali, aneka jajanan, permainan, ikan, dan pastinya lampion. Berhubung pukul 17.00 langit masih terang dan lampion belum menyala, akhirnya ada yang kesenengan main ikan.



Sehabis magrib lampion sempurna menyala semua. Siap berkeliling dan berfoto setelah sebelumnya sempat ada drama kecil. Sekarang saya sudah punya senjata untuk merajuk dan mengancam, "nanti aku nangis nih!" Untung yang menghadapinya sabar walau kadang juga nyebelin.

Museum Jogja Kembali









Yang lagi sakit lemes diajak selfie


Sebenarnya rencana awal setelah dari Taman Lampion ingin ke Secret Garden, tetapi ada tawaran lain. Nonton teater di kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan. Pilih nonton teater lah. Mampir ke minimarket untuk beli minum dan numpang buang air kecil.

"Kok beli roti juga?"
"Buat ganjel perut dulu. Harus habis ya! Nanti kubeliin Pizza kalau habis."

Nyengir lebar.

Malam itu ada dua pementasan teater dari Teater JAB. 'Pusaka' karya Lathief S Nugraha dan 'Ulung Para Pemulung' karya Anes Prabu. Teater selesai sekitar pukul 22.00. Datang nonton teater dengan membawa saya cukup membuatnya dihujani beberapa pertanyaan dari mereka yang baru melihat sosok saya, "pacarnya ya?" atau "calonnya ya?" atau "kapan undangannya?". Yaah, ketahuan deh, nanti para fansnya kecewa deh. Masih bisa ngecengin dedek-dedek lainnya nggak ya. Hahaha... :p

Usai pentas teater



Pulang sekitar pukul 22.30 setelah sebelumnya menunggunya untuk ikut foto bersama para pemain teater dan para tim produksinya sebagai alumni. Di perjalanan pulang berhenti di depan Pizza Hut.

"Jadi mau dibeliin Pizza?"
"Nggak ah. Enakan PHD kalau dibawa pulang dan cuma aku yang makan."
"Bener nggak mau?"
"Nggak. Lagian jam segini udah mau tutup."
"Itu masih ada pembeli di dalam."
"Nggak ah."
"Yaudah. Yang penting aku udah niat mau beliin ngidamnya loh ya."

Huueee, kok tumben manis sih :* eh nggak tumben juga sih. Sering mungkin, hanya saja saya yang selalu merasa kurang ditambah ngambekan. Hhmm...

Akhirnya mampir ke Bakmi Djawa entah di jalan apa itu. Enak. Hanya pesan satu. Untuk saya. Entah, sejak demam kemarin ada yang jadi nggak nafsu makan dan cuma sedikit banget makannya. Padahal saya lagi senang-senangnya makan. Keadaan sedang berbalik. Yang lagi nggak nafsu makan hanya pesan wedang ronde dan mencicip bakmi beberapa suap.

Pulang, istirahat, tidur lelap. Keesokan paginya, 04 Desember 2016, last day in Yogya. Sarapan dan check out.

Pilihan saya untuk menginap di De Pendopo Homestay tidak salah juga. Pelayanan yang ramah, suasana yang rumahan banget, dan taman-taman yang masih asik buat duduk-duduk. Sejauh ini, peginapan ini salah satu penginapan dengan pelayanan breakfast yang baik selain di Roemah Oma Guest House dari beberapa penginapan yang pernah saya icip di Yogya. Kamar yang tidak terlalu besar dengan toilet pribadi yang nyaman dan iterior unik. Pilihan sarapan yang beragam dan bebas pilih. Kalian bisa gugling sendiri kalau penasaran.

Hanya saja ada beberapa kelemahan dari De Pendopo Homestay. Kebersihannya agak kurang menurut saya, meski sudah cukup bersih, tapi mungkin buat saya yang tingkat kebersihannya agak lebay tempat tersebut masih sedikit ada debu. Saat malam pertama menginap ada beberapa nyamuk. AC kamar yang tidak terlalu dingin. Ini juga mungkin karena saya yang tingkat kegerahannya pun agak lebay. Hanya itu mungkin kekurangannya. Selebihnya, tidak mengecewakan. Keramahan pemiliknyalah yang membuat ingin kembali menginap lagi mungkin.

Sarapan hari pertama

Sarapan hari kedua

Tempat favoritnya setiap
nunggu sarapan siap

Itu kamarnya





Setelah check out, diantar ke jalan Glagahsari untuk membeli oleh-oleh kemudian pulang dan menaruh barang di rumah.

Untuk memenuhi permintaan saya dan mencegah serangan ngambek lagi, akhirnya siang yang panas itu langsung meluncur ke Candi Abang. Perjalanan menuju Candi Abang melewati sebuah situs cagar budaya Goa Sentono. Sayang kan kalau nggak mampir dulu.



Tiba di kawasan Candi Abang, harus berjalan kurang lebih sejauh 300 meter dari parkiran. Entah seperti apa bentuk Candi Abang yang sebenarnya. Hanya sebuah gundukan berbentuk bukit hijau yang terlihat beberapa bongkahan batu bata merah. Benar Candi kah?

Fetinya kelihatan nggak?


Cantik ya...
pemandangan dari atas bukitnya





Harus diancam 'nangis' dulu baru mau diajak selfie
Huffttt


Setelah dari Candi Abang, kami mampir ke Lava Bantal dan ke rumah temannya Mas yang sejalur dengan jalan pulang. Tiba di sekitar rumah sekitar pukul 15.15. Saya lapar. Entah, bawaannya lagi lapar dan ingin makan mulu, sedangkan mas justru sebaliknya. Padahal biasanya mas yang makan banyak dan saya nggak pernah habis kalau makan. Berbalik.






Susahnya diajak selfie yang benar


Kawasan Lava Bantal

Mengunjungi Goa Sentono, Candi Abang, dan Lava Bantal tidak dikenakan biaya masuk, hanya membayar parkir. Yogya masih banyak wisata gratis loh.

Setelah bingung mau makan apa, akhirnya memutuskan makan seafood di Baleayu. Mas hanya makan beberpa suap. Ada yang nggak beres dengan pencernaannya setelah demam kemarin tampaknya. Padahal kan pinginnya sama-sama enak makan.



Pukul 16.00 sampai di rumah dan packing. Sekitar pukul 17.00 harus berangkat ke stasiun Tugu setelah sebelumnya ada drama cengeng.

"Tumben sih nangis mau pulang?"
"Tumben? Mas aja yang nggak tahu."
"Loh iya kok biasanya nggak nangis."
"Ya biasanya kan nangisnya kalo udah di kereta."
"Hiiih... ngapain nangis di kereta. Kayak udah nggak ketemu lagi aja. Kan masih bisa dijadwal lagi nanti."

Pukul 17.30 tiba di stasiun Tugu Yogyakarta dan langsung check in setelah salam perpisahan sementara itu. Kali ini, nggak ada lagi adegan mewek di kereta, karena meweknya udah tadi di rumah. Si sapi pun terpaksa ditinggal karena bawaan oleh-oleh yang lumayan berat, jadi nggak ada yang bisa dipeluk di kereta kalau mau nangis.

Hal yang paling menyebalkan dari sebuah perpisahan adalah rindu yang semakin bertambah berkali lipat, meski belum benar-benar berpisah dan menjauh. Raga masih di hadapan, namun waktu terus berlari menuju lonceng perpisahan, rindu sudah mulai tumbuh dan beranak pinak.

Ini hal lucu, tetapi memang selalu itulah yang terjadi. Perpisahan selalu bersahabat dengan air mata. 

Semoga beberapa rencana pertemuan dan acara bisa terlaksana. Semoga rindu bisa selalu saling menguatkan. Terima kasih untuk semua. Menghadapi sikap rewel merajuk dan ngambek meski sedang dalam keadaan sakit. Jangan tumbang lagi ya setelah kutinggal.

gambar ini dikirim
ketika kereta baru berangkat
meninggalkan Yogyakarta

Kami adalah sebuah
perjalanan melalui buku




Katanya, jarak itu menguatkan rindu....




@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena