Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Graduate yang Sibuk


Perjalanan ke Jogja kali ini adalah untuk menghadiri hari bahagia seseorang. Acara baru akan dilaksanakan pada hari selasa 20 Oktober 2015.

Berangkat dari Jakarta Sabtu malam. Sampai Jogja minggu pagi dan langsung dijemput tanpa cari-carian di pintu keluar yang salah lagi. Agak bisa santai dan ngobrol sampai siang sebelum ditinggal ke Wates dan dititipkan di JBS. Kebetulan ada acara diskusi 'PIKNIK' di JBS jadi nggak perlu bengong.

Selepas maghrib acara selesai dan telepon masuk. Memberi kabar bahwa baru jalan balik dari Wates dan menyuruh makan duluan, berhubung dari siang belum makan. Akhirnya diculik om Eko dan Olih ke Dongeng Kopi dengan niatan ketemu mas Bajang, ternyata mas Bajangnya nggak bisa datang. Dongeng Kopi adalah sebuah kafe sekaligus kantor Indie Book Corner kepunyaan Irwan Bajang. Ngopi-ngopi, ngobrol-ngobrol, selfie-selfie, dan isi perut. Penculikan oleh om-om Klub Buku Yogya. Para tim hore yang cantik-cantik sedang berhalangan untuk ikutan ngegosip. Sayang sekali:(


Eksklusif sebelum acara dimulai
Lagi selfie sama si ndut, papanya nggak mau kalah ikutan
Acara 'PIKNIK'
Diantara om-omnya KlubBuku Yogya

Yang baru kembali dari Wates nggak bisa menyusul ke Dongeng Kopi karena harus ke Dinas Kebudayaan ngawas latihan untuk teater kolosal Cupu Manik produksinya. Akhirnya pukul sembilan kurang dari Dongeng Kopi diantar ke Dinas Kebudayaan sama kak Ahmad. Sampai di Dinas Kebudayaan, niat mau nonton latihannya malah sudah selesai. Akhirnya langsung pulang dan istirahat.

Senin pagi sudah nongkrong cantik di Dinas Kebudayaan. Menemani yang sedang mengurus segala keribetannya untuk pentas kolosan 24 Oktober nanti. Setelah dari Dinas Kebudayaan, langsung meluncur ke Parasamya Bantul setelah sebelumnya mampir ke pendapa gamelan. Masih untuk urusan yang sama. Selesai urusan di Parasamya, mampir ke SMP 2 Bantul. Kembali ke Jogja dan langsung check in ke Univercity Club UGM. Lanjut ke percetakan dan sampai akhirnya kembali ke Dinas Kebudayaan pukul 13.00. Menyusup ke dalam konferensi pers Cupumanik. Selesai acara, kembali ke UC UGM menemui Ibu dan Bapak sebentar. Kemudian pamit untuk survey tempat makan untuk acara syukuran esok di jalan Kaliurang KM15,5. Setelah itu ada yang mampir potong rambut dulu sebelum kembali ke UC dan lanjut makan malam dengan keluarganya mas Yudi (soulmatenya si Mas). Senin singkat yang melelahkan baru bisa selonjoran di kasur sekitar pukul 22.00.

Menyusup di konferensi pers
Timnya Cupu Manik

Selasa. Hari utama.
Selamat wisudaa!!!

20 Oktober 2015, akhirnya pakai jubah hitam juga setelah betah duduk di bangku S2 yang sudah berapa tahun? Yaa itulah pokoknya lama ya. Hahaha.

Bangun pagi, lebih pagi dari pada ayam. Sekitar pukul 06.00 sudah duduk manis di UC UGM menemani Bapak Ibu sarapan. Setelah sarapan, mengantar ke Graha Sabha Pramana UGM sampai di depan pintu masuk untuk para undangan.

Graha Sabha Pramana UGM ramai penuh sesak oleh orang-orang dengan raut wajah bahagia. Pengukuhan wisudawan/wisudawati pascasarjana dan Doktor pagi itu cukup terik dan panas. Seperti biasanya suasana wisuda, banyak penjual bunga, boneka, dan segala perintilan hadiah untuk diberikan kepada yang tengah berbahagia memakai toga. Beruntung ada ruang di lantai satu yang tersedia monitor untuk melihat prosesi wisuda bagi yang tidak mendapat undangan.

Sekitar pukul 11.00 acara selesai. Para wisudawan pun keluar dan acara foto-foto pun berlangsung. Panas, ramai, sesak, tapi bahagia. Begitulah.

Setelah acara di Graha Sabha Pramana, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya pindah acara ke gedung PKKH. Acara dilanjutkan dengan cukup singkat namun berisi. Makan siang bersama dengan segala hidangan yang memanjakan perut. Salah satunya es krim.

Selamat atas gelar MA -nya. Semoga segala ilmunya bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang, selalu menjadi insiprasi untuk semua orang, dan tetap terus berkarya dengan luar biasa. Semoga cepat menyusul gelar Doktor -nya. Dan semoga segera dipersatukan dengan jodohnya agar hidupmu bisa lebih teratur dan ada yang memperhatikan.









Sekitar pukul 13.00 langsung meluncur ke RM Muara Kapuas yang terletak di Jalan Kaliurang KM 15,5. Acara syukuran makan-makan bersama keluarga dan teman-teman. Ada teman-teman dari teater, seniman senior, sekolah film, rekan kantor, dan teman kos. Acara berlangsung hingga pukul 17.00. Sekitar pukul 19.00 sampai di rumah. Seharusnya musti lanjut ke Bantul mengurus pentas kolosal lagi, tetapi ada yang kasihan melihat saya kelelahan sepertinya. Setelah istirahat dan bersih-bersih diri, akhirnya di ajak ngeskrim ke Callais.







Rabu. Dipikir bisa bangun lebih siang setelah segala kesibukan kemarin, ternyata tetap harus bangun pagi dan sudah kembali duduk manis di Dinas Kebudayaan. Menunggu hingga pukul 10.00, tapi yang ditunggu masih rapat. Akhirnya memutuskan untuk lanjut ke RM Lesehan Aldan di Jalan Bantul untuk konferensi pers. Acara berlangsung hingga pukul 13.00. Setelah selesai semua, diajak ke Rumah Seni Sawah Ladang untuk melihat segala properti yang siap diangkut ke Lapangan Paseban Bantul. Karya yang bagus-bagus sekali.

"Jadi gitu, mereka tuh seneng kalau hasil kerjanya diliatin, diapresiasi, diperhatiin. Jadi makin semangat kerjanya," jelasnya sambil tetap fokus pada handphonenya yang nggak berhenti berdering.

"Yaiyalah! Siapa juga seneng kali kalau diperhatiin."

"Gitu ya? Emang aku nggak perhatian?"

"Enggak!"

"Masa? Kamunya aja kali yang terlalu sensitif."

"-___________-"

Sampai rumah pukul 15.00 setelah sebelumnya mampir ke toko bakpia dan cetak foto.

"Kita masih punya waktu sampai magrib nih sebelum ke stasiun. Mau kemana?"

"Kemana? Males juga kali kemana-mana kalau yang diperhatiin cuma hp. Nggak menikmati!"

"Ya gimana? Kalau nggak gini, besok pentas kolosalnya nggak jadi."

"........."

"Mancing yuukkk!!!"

Yang diajak jalan di sisa akhir waktunya malah diam dan ngambek. Sekitar pukul empat kurang baru berhasil dibujuk untuk jalan keluar. Mancing di West Lake. Sebuah resto seafood yang romantis dengan saung-saung dan ditengahnya ada danau besar yang diperuntukkan bagi yang ingin memancing. Tempatnya sih sudah romantis, tapi tetap ada yang nggak bisa romantis. Kalau ada yang beranggapan bahwa penyair itu romantis, anggapan itu jelas salah besar.

Menikmati makanannya, tapi tidak memancingnya. Sabarnya cukup untuk menunggu kamu sajalah, nggak usah ditambah disuruh nungguin ikan makan umpan. Belajar mancing malah jari telunjuk yang terkena kail pancing dan ternyata tajam sekali. Dapat 3 ikan dan 3 kali pula pancingannya putus. Cukup pancingannya saja ya yang putus, kita jangan.

Sekitar pukul 18.30 harus pulang untuk mengambil tas dan lanjut ke stasiun. Pukul 20.00 fix harus kembali ke Jakarta. Tiba di stasiun Yogyakarta, Taksaka Malam sudah menunggu di peron 5 dan 10 menit lagi akan segera berangkat. Diantar sampai depan pintu masuk tanpa turun kendaraan apalagi salam perpisahan seperti biasanya. Setelah cium tangan, saya langsung masuk ke dalam, sedang dia langsung meluncur ke Bantul. Mengurus urusan pentas kolosal lagi.






Konferensi pers (lagi). Nontonin para wartawan (lagi)


Di akhir, ada hadiah yang telat disampaikan dengan berbagai alasan. Terima kasih, meski yang menerima tetap bete karena selalu paket-paket itu tidak pernah sampai tepat pada waktunya.

Sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya. Ditunggu di Jakarta setelah segala pekerjaan selesai.

Sukses untuk pentas teater kolosal "Cupu Manik Hastagina" 24 Oktober 2015, 19.30 di Lapangan Paseban Bantul. Semoga lebih sukses dari Njemparing Rasa tahun lalu. Tetap berkarya dengan luar biasa dan terus menginspirasi orang-orang disekitarmu. Ingat kesehatan, tubuhmu bukan robot yang nggak bisa ambruk. Pada akhirnya saya mengerti, betapa melelahkannya memproduksi sebuah pentas teater kolosal sebesar ini.

Selamaaatt sekali lagi untuk kelulusan dan pentas teater kolosal terbesar produksi keduanya!!!






@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena